そら の いろ
Aura masih belum menyerah untuk mencoba menjadi lebih dekat dengan Ksatria. Tidak bisa lewat abangnya, terpaksa dia harus mengerahkan seluruh keberaniannya untuk mendekatinya secara langsung. Ia pendam rasa malunya, ia singkirkan gengsinya jauh-jauh, yang penting adalah dia bisa mengobrol lebih lama dengan Ksatria. Sekedar saling bertukar nama juga tak masalah baginya.
Untuk itulah, hari ini dia akan membuktikan tekad bajanya. Seluruh persiapan tempur sudah siap. Sebuah novel non fiksi komedi, berbagai jenis kue kering, dan dua botol air mineral telah siap di kantong bergambar salah satu tokoh di permainan Angry Bird. Dia berharap dengan segala senjata yang telah ia persiapkan matang-matang dapat meluluhkan hati bajanya Ksatria.
“Ra, gue liat tadi lo bawa kastengel, bagi dong!” ujar Mega yang tadi sempat melirik sekilas ke kantong yang di bawa Aura.
“Enak aja minta! Ini bukan buat lo, tau!” tolak Aura dengan menjauhkan kantongnya dari hadapan Mega yang sudah memasang wajah mupengnya.
“Etdah pelit amat lo! Emang buat siapa sih? Lagian itu lo bawa banyak, masa iya gue minta dikit aja nggak boleh!” rayu Mega gencar.
Aura menggeleng tegas, seraya menepis tangan Mega yang hampir saja merebut kantongnya.
“Pelit amat lo ama temen! Orang pelit matanya sipit, tau!” gerutu Mega yang keinginannya untuk mencicipi kastengel bawaan Aura harus kandas karena Aura begitu protektif pada bawaannya. Padahal Mega kan doyan banget sama kue kering satu itu.
“Lain kali pasti lo gue bagi. Tapi kalo yang ini jangan!” ujar Aura berusaha membujuk Mega yang sudah mulai ngambek.
“Emang tuh kue buat siapa sih? Segitunya lo, sampe gue aja nggak boleh nyicip,” tanya Mega kesal.
“Buat dia lah, siapa lagi!?” jawab Aura yang sekarang sudah senyum-senyum sendiri.
Melihat temannya yang sudah seperti ada di dunianya sendiri, Mega pun diam-diam mencoba kembali untuk mengambil toples kue yang berisi kastengel, sedikit lagi ia bisa membuka toples itu dan mengambilnya, tapi naas, nasibnya memang benar-benar belum beruntung kali ini.
“Auu,,!! Sakit tau Ra!!” pekik Mega, ketika sebuah penggaris melayang menghantam tangannya. Ia mengusap tempat di mana penggaris itu tadi mendarat dengan meninggalkan bekas merah di kulitnya. “Bener-bener tega lo,” gerutunya.
“Habisnya lo sih, udah gue bilangin dari tadi juga. Ini kue bukan buat lo, eh lo nya aja yang bandel. Rasain tuh, emang enak?” ejek Aura penuh kemenangan, seraya bangkit dari duduknya dan melangkah pergi, tak lupa ia membawa kantong yang telah ia persiapkan sebelumhya.
“Eh, lo mau kemana!? Bentar lagi masuk!!” teriak Mega.
Aura menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah Mega yang hendak menyusulnya. “Mau kencan. Lo izinin gue ya, bilang aja gue di UKS. Oke?!” jawab Aura dengan senyum lebar.
“Huu... Dasar yang lagi dimabuk cinta.” Gerutu Mega lirih.
Sepanjang perjalanannya dari kelas menuju gudang cinta-sebutan Aura untuk gudang tempatnya sering bertemu dengan Ksatria-tak sedetik pun senyum manis lepas dari wajahnya. Dia benar-benar menantikan hari ini, semalam dia sudah mempersiapkannya, sampai-sampai ia jadi susah tidur gara-gara ingin cepat-cepat pagi.
Aura melihat lagi bawaannya yang ada di kantong. Novel, check. Kue kering, check. Air mineral, check. Mental? Agaknya belum deh. Sejenak ia menarik napas panjang, menahannya selama enam detik dan ia keluarkan perlahan-lahan lewat mulut. Ia ulangi hal tersebut hingga tiga kali hingga ia sekarang sudah jauh lebih tenang dan siap untuk menghadapi tantangan di depan mata.
Dengan langkah pelan ia belokan kakinya ke koridor sepi yang mengarah ke gudang cinta. Dari tadi dia sudah mendengar petikan-petikan gitar, jadi dia bisa memastikan kalau orang yang ingin ia temui memang benar-benar ada di sana. Ia melangkah tanpa suara sambil menikmati denting gitar yang mengalunkan sebuah nada riang. Sepertinya suasana hatinya sedang baik.
Baguslah, dengan begitu Aura dapat berharap lebih dari rencana yang telah ia siapkan. Salah satu lagu milik Ari Lasso yang berjudul Mengejar Matahari, kini telah mendekati akhir. Setelah yakin kalau dia sudah menyelesaikan permainan gitarnya, barulah Aura keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan langkah yakin dia berjalan mendekati Ksatria yang kini tengah menatapnya tidak suka. Ia abaikan tatapan penolakan itu, ia berjalan terus hingga melewatinya. Tak jauh dari sana ia pun menghempaskan tubuhnya pada sebuah kursi tua yang salah satu kakinya pendek sebelah.
Ia melirik sekilas pada Ksatria yang masih menatapnya tak suka. Ia letakkan kantong yang berisi kue-kue di meja yang terletak di antara mereka. Ia keluarkan salah satu toples kue yang berisi nastar, salah satu kue kering favoritnya, tak lupa ia mengambil novel yang juga sudah ia siapkan. Seolah baru menyadari kalau ada orang di sekitarnya, ia pun menyapa Ksatria dengan berpura-pura terkejut.
“Hei, lo di sini juga!? Udah lama? Gue nggak tau kalau lo juga di sini.” Ujarnya ringan memulai perbincangan dengan orang yang sudah jelas-jelas menolak kehadirannya, seraya mengambil satu buah nastar dan melahapnya.
Ksatria hanya diam dan masih menatap Aura tajam. Memperhatikan gerak-gerik gadis itu, yang seolah mengabaikan penolakannya.
“Gue nggak ganggu lo kan? Oh iya, kalo lo mau, ambil aja.” kata Aura menawarkan nastar yang ia bawa.
“Gue nggak suka makanan manis,” jawabnya datar.
“Yes! Akhirnya dia ngomong juga!” sorak Aura dalam hati. Tak urung senyum kemenangan terbit di wajahnya. Dengan berpura-pura tersedak ia samarkan senyumnya agar Ksatria tak curiga. “Ehem, kalau lo nggak suka nastar, gue ada kok kastangel. Lo mau?” tawar Aura lagi, setelah meneguk air mineralnya.
“Gue nggak suka keju,” balas Ksatria, masih sedatar yang dulu.
“Oh... Kalau choco chip, mau?” lagi-lagi Aura menawari Ksatria dengan kue-kue yang di bawanya. “Aah. Jangan bilang lo nggak suka cokelat juga,” sambar Aura sebelum mendengar jawaban Ksatria.
Ksatria hanya diam dan kembali memetik gitarnya, kali ini hanya nada-nada ringan, tanpa sebuah lagu. Aura yang melihatnya diam, mengangguk mengerti. “Nggak suka manis. Nggak suka keju. Nggak suka cokelat juga. Terus lo sukanya apa dong? Keripik doyan nggak?” tanya Aura lagi.
Kini ia mendapatkan sebuah tatapan kesal dari Ksatria, tapi seperti tekadnya tadi, ia abaikan semua itu. Walau jantungnya sudah marathon dari tadi. Suasananya benar-benar aneh dan menyesakkan.
“Stop nawarin gue apapun yang lo bawa. Karena gue nggak laper dan nggak minat dengan semua itu!” jawab Ksatria kesal karena merasa kedamaiannya terusik dengan kehadiran seorang cewek dari antah berantah yang dari tadi tak berhenti menawarinya kue-kue.
“Dia ini mau jualan kue, apa anak tukang kue sih?!” gerutu Ksatria dalam hati.
“Sorry, gue kan Cuma mau berbagi kue yang gue bawa aja. Sorry kalau malah bikin lo marah.” Aura berkata pelan dengan menundukkan kepalanya, berpura-pura menekuni buku yang ia baca.
Hening kembali melingkupi mereka. Hanya denting gitar dan suara halaman buku yang dibalik yang menemani mereka. Itupun diselingi dengan tawa geli Aura yang merasa lucu dengan sesuatu yang ia baca. Karena tak tahan hanya diam-diaman seperti itu. Aura pun kembali berusaha untuk mengajak Ksatria mengobrol.
“Eh, iya ngomong-ngomong kita udah berkali-kali ketemu, tapi gue belum tau nama lo. Gue Rara. Lo?” ujar Aura mencoba untuk berkenalan, sengaja ia menggunakan panggilan kecilnya, agar ia tak menjadi bahan ledekan teman-temannya kalau ketahuan dia lagi PDKT dengan si Ksatria Bergitar.
“Langit,” jawabnya super singgat dan nggak jelas.
“Langit?! Apaan coba maksudnya?! Gue kan lagi nanyain nama, bukan cuaca!?” omel Aura dalam hati, tak mengerti.
“Langit??” lanjutnya dengan nada tak mengerti.
“Iya. Kenapa?! Nggak suka!?” Ketusnya.
“Haa!?? Eng... Nggak. Cuma aneh aja.” Tanggap Aura gelagapan. “Aneh bener sih namanya? Langit????!! Bukannya Ksatria ya?” lanjutnya penuh kebingungan, lagi-lagi dalam hati.
“Aneh? Gue rasa nggak.” Bantahnya.
“Tapi, bukannya nama lo Ksatria ya?” tanya Aura hati-hati.
“Ternyata lo udah nyari tau tentang gue ya, sebelum lo ngajak kenalan?” tanya Ksatria sinis, senyum mengejek terukir di wajah pucatnya.
“Eh, i.. itu.. gue Cuma denger dari orang-orang. Bukan gue yang sengaja nyari tau.” Elak Aura, menghindari tatapan mengejek Ksatria. “Tapi, emang bener kan ya, nama lo Ksatria?” tanya Aura memastikan.
“Mereka nggak salah, dan gue juga bener.” Jawabnya berteka teki.
“Maksud lo? Nama lo ada unsur Ksatria ama Langit, gitu?” kata Aura semakin tak mengerti dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Ksatria dan Langit adalah perpaduan yang tak lazim, ke dua kata itu hanya akrab di dunia dongeng. Kalau ada orang yang menyandang ke dua kata itu sebagai namanya, alangkah langkanya orang itu, dan yang pasti ANEH.
“Ksatria adalah orang yang bener-bener tangguh dan memiliki kemampuan untuk membela dan melindungi orang lain dari kejahatan. Dan itu bukan gue banget. Langit adalah salah satu ciptaan Tuhan yang tinggi tapi juga abstrak. Lo bisa nyentuh langit? Nggak. Lo Cuma bisa ngeliat dia tapi lo nggak pernah bisa menyentuhnya, bahkan dasarnya pun nggak bisa. Dia biru, dan akan seperti itu sampai nanti. Langit akan terlihat sama walaupun lo ngeliat dari tempat dan daerah berbeda. Sama-sama biru dan tinggi. Dan itu adalah gue, lo bisa ngeliat gue, lo bisa deket sama gue, bisa jadi temen gue, tapi satu hal yang pasti, gue nggak bakal pernah bisa jadi milik lo. Lo Cuma bisa ngeliat tanpa bisa memiliki. Itulah gue. Langit.” Jelasnya panjang lebar.
Aura menatap Ksatria penuh tanya. Apa maksudnya menjelaskan semua itu. Dia bukan Ksatria, tapi Langit. Apa maksudnya dia tuh bukan seorang ksatria yang bisa ngelindungin orang, tapi langit yang jadi tempat orang mencari inspirasi. Aah... Semakin di pikir ia semakin tak mengerti. Langit. Ksatria. Benar-benar membuatnya pusing.
“Gue nggak ngerti.” Akhirnya Aura mengungkapkan kebingungannya.
“Suatu saat lo pasti bakal ngerti. Tapi saran gue nih ya, sebelum tiba waktunya lo ngerti semua yang gue bilang tadi, mendingan mulai sekarang lo jangan pernah muncul di depan gue lagi. Jangan pernah punya niat di hati lo buat jadi deket sama gue. Karena semakin lo berusaha deket sama gue efek yang bakal lo rasaian bakalan semakin dalem.” Ujar Ksatria misterius, ia memandang Aura yang tengah menatapnya bingung dengan pandangan tajam.
“Maksudnya?” lagi-lagi tanya itu muncul.
“Karena gue adalah Langit. Seseorang yang cukup untuk diketahui, dilihat namun bukan untuk dimiliki.” Ujarnya sebelum pergi meninggalkan Aura dengan deretan tanda tanya menggantung di benaknya.
“Langit? Jadi, maksudnya gue nggak boleh naksir sama dia?! Dia beneran nolak gue atau apa sih?! Gue bener-bener nggak ngerti!!” ujarnya kesal, seraya membereskan toples-toples kue dengan kasar dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan berkecamuk.
###
Siang ini tak begitu terik, awan hitam tampak menggantung di langit. Udara juga sudah mulai sejuk, kalau boleh dibilang dingin. Dan di cuaca seperti ini, enaknya adalah menghangatkan badan dengan menyantap kudapan yang anget-anget dan pedes. Heeuumm... pasti nikmat dan lezat. Perut kenyang badan pun hangat. Membayangkannya saja sudah membuatku meneteskan air liur. Dari tadi di kelas aku sudah terbayang-bayang bulatan-bulatan bakso yang menggoda untuk segera di eksekusi.
Untuk itulah sekarang aku di sini, di salah satu sudut kantin dengan di temani semangkuk bakso panas nan pedas dan segelas es jeruk. Aku baru saja menuangkan beberapa sendok sambal dan hendak memberikan sedikit saos tomat ketika cewek dengan senyum paling manis yang pernah ku kenal, datang menghampiriku dengan langkah-langkah panjang dan wajah kesal.
“Ada apa lagi?” tanyaku sekedarnya, seraya mengaduk mangkok baksoku. Aroma yang ditimbulkannya benar-benar menerbitkan selera makanku. Perutku pun sudah tak sabar untuk segera menampung makanan paling populer di Indonesia ini.
“Gue nggak ngerti ya kak sama jalan pikiran adek lo itu. Gue ajak kenalan, eeh.. Dianya malah ngomong ngaco, tentang ksatria lah tentang langit lah. Apa coba maksudnya!? Gue kan ngajak kenalan bukannya ngajak ngomong tentang cuaca atau cerita antah berantah. Kesel gue! Apa sih susahnya bilang nama doang!! Tinggal bilang nama gue Paimin, Paijo, kan enak. Langsung. To The Point. Bukannya malah ngomongin yang nggak-nggak. Emangnya nama adek lo itu sebenernya siapa sih Kak!?” omelnya berapi-api. Kelihatan jelas kalau dia sedang kesal.
Aku menelan potongan bakso pertama ku, memang nikmat makan bakso di kala cuaca sedang tak bersahabat seperti ini. “Masa’ lo nggak tau. Nama gue aja lo udah tau sebelum lo ngajak kenalan. Mustahil kalo lo belum tau nama adek gue sebelum lo ngajak dia kenalan,” kataku telak. Tak urung rona merah itu menjalar di pipinya.
“Gue Cuma tau dia di panggil Ksatria sama orang-orang. Jadi gue simpulin aja kalau namanya itu Ksatria. Bukannya langit atau entah apalah itu.” Jawabnya kesal.
“Namanya emang Ksatria kok,” ujarku singkat, seraya mengunyah potongan bakso kedua.
“Tapi kenapa tadi dia nggak bilang gitu?” tanyanya heran. Dia menatapku yang sedang menyantap bakso dengan pandangan mupeng.
“Lo mau? Pesen gih, tapi ntar bayar sendiri-sendiri,” kataku setelah melihatnya menelan ludah menahan keinginannya untuk ikut menikmati makanan cepat saji paliing merakyat.
“Ah, nggak. Gue udah makan tadi. Lo sih kak, makannya gitu banget, jadi pengen kan gue.” ujarnya dengan tawa kecil.
“Emang dia tadi bilang apa waktu lo ngajak kenalan?” tanyaku menyelidik setelah menyeruput es jerukku. Segar sekali rasanya, rasa pedas yang tadi sempat ku rasakan tak berasa lagi, walau aku tau nanti akan menjadi lebih parah dari ini.
“Dia bilang namanya Langit. Emang namanya ada unsur-unsur langitnya gitu ya kak?” tanyanya dengan pandangan menyelidik.
Aku hanya menangguk, susah untuk menjawab langsung kalau sedang mengunyah seperti ini, apalagi kali ini potongan baksonya terlalu besar, sehingga menyulitkanku untuk berbicara. “Namanya emang ada langitnya kok,” kataku setelah susah payah menelan potongan besar bakso tadi.
“Hah!? Beneran ada langitnya kak?!” katanya kaget.
“Yep, namanya itu Cahya Ksatria Langit.” Ujarku singkat, kembali melanjutkan mengeksekusi komponen-komponen yang terdapat dalam mangkok bakso di hadapanku. Tinggal sedikit lagi dan aku benar-benar akan menghabisinya. Tersisa satu bulatan kecil bakso dan beberapa lembar mie putih di sana.
“Apa!? Cahya Ksatria Langit!? Dongeng banget sih kak namanya!?” ujarnya dengan sebentuk tawa kecil. “Ksatria Langit!? Untung nama lo bukan Ksatria Bumi kak.” Lanjutnya, kali ini ia tertawa lepas. Sebuah reaksi yang sering ku temui kalau ada orang yang menanyakan nama lengkap adik semata wayangku.
Aku meneguk es jerukku hingga tinggal seperempat gelas, sebelum akhirnya menjelaskan sesuatu mengenai sejarah nama yang disandang adikku itu. “Emang namanya kayak dongeng. Aneh dan nggak lazim, tapi itu semua emang menggambarkan gimana dia sebenarnya. Dia itu emang hidup di negeri dongeng yang akhir ceritanya udah ketahuan bahkan dari halaman pertama saat lo baca buku dongeng. Aneh dan nggak lazim juga mencerminkan dia. Dia emang anak yang istimewa yang diberikan Tuhan ke keluarga gue, dan dua kata itu emang udah melekat sama dia sejak kecil.” Aku menghirup napas panjang sebelum kembali melanjutkan.
Cewek itu memandangku lekat, benar-benar mendengarkan ucapanku dengan serius. “Dan, kalau soal namanya. Cahya, dia diberi nama itu supaya dia selalu bersinar di hati orang-orang yang sayang sama dia, di hati orang-orang yang dia kenal. Walaupun suatu saat nanti cahayanya pudar, namun Cahya yang sebenarnya tetap bersinar. Ksatria, walaupun dia tak cukup mampu untuk melindungi orang-orang yang dia sayangi, namun dia udah jadi seorang Ksatria dalam hidupnya sendiri, seorang pejuang yang tak pernah lelah memperjuangkan sebuah kehidupan, untuk itulah kakek memberinya nama Ksatria.” Aku menghentikan penjelasanku dan kembali menyeruput es jerukku yang kini tinggal air doang, esnya telah melebur.
“Kalau Langit?” tanyanya singkat.
“Langit, karena dia berasal dari sesuatu Yang Tinggi, dan selalu mempunyai harapan yang tinggi. Selain itu, walaupun orang lain memberinya pandangan yang berbeda tentangnya, tapi dia Cuma satu. Sama seperti langit, yang walaupun dipandang dari segala arah tetap sama. Sama-sama biru dan tinggi. Satu lagi, dia adalah orang yang ditakdirkan untuk sendiri. Lo boleh aja kenal sama dia, dekat sama dia, jadi pacarnya, mungkin. Tapi satu hal yang pasti, lo nggak bakal pernah bisa milikin dia.” Kataku mengakhiri penjelasan panjangku tentang sejarah nama Cahya Ksatria Langit.
Cewek itu memandangku kaget dan tak mengerti. Untuk sesaat dia seolah membeku. Hingga aku harus melambaikan tanganku di wajahnya agar ia kembali ke kesadarannya. “Lo kenapa sih? Kaget ya?” goda ku.
Dia tersenyum kaku sebelum akhirnya bicara singkat. “Lo tau kak? Dia tadi bilang hal yang hampir sama kayak yang lo bilang tadi. Tentang Langit.”
“Oh ya? Emang dia tadi bilang apa?” tanyaku terkejut, tak menyangka kalau Ksatria benar-benar memegang prinsipnya untuk tak menjalin hubungan dengan orang lain.
“Dia bilang, walaupun gue bisa jadi lebih deket sama dia, tapi gue nggak bisa milikin dia. Maksudnya apa sih kak? Dia tadi juga bilang supaya gue ngejauhin dia aja sebelum semuanya terlambat. Emang terlambat untuk apa?” tanyanya lirih.
Aku menatapnya prihatin sekaligus sedikit berharap. Akankah dia menjadi orang yang ditakdirkan untuk mewarnai langit? Orang yang memang ditakdirkan untuk mendapatkan pandora itu? Aku tatap keseluruhan raganya, dan melihatnya dengan tatapan sendu itu semakin menguatkan keyakinanku. Dia memang pelukis langit. Aku benar-benar prihatin sekarang pada nasibnya yang kurang beruntung. Harus menerima luka disaat bahagia.
“Sebaiknya lo pikirin lagi keputusan lo buat jadi lebiih deket sama adek gue. Lo pertimbangin mateng-mateng sebelum lo memutuskan buat jadi seseorang yang deket sama dia. Kalau lo udah pikirin mateng-mateng, gue harap lo siap dengan segala resiko dari pilihan lo itu.” Kataku sebelum beranjak meninggalkannya untuk membayar makananku dan kembali ke kelas. Sekilas aku melihatnya tertegun di tempat duduknya. Sebaiknya dia membuat keputusan yang memang benar-benar dia inginkan. Aku tak mau ia kecewa, terlebih lagi membuat Ksatria kecewa.
Rabu, 10 Oktober 2012
Colour of Sky 3
そら の いろ
Check up kali ini ternyata memakan banyak waktu, entah kenapa Om Ravi harus melakukan tes darah kali ini, padahal biasanya nggak. Itulah sebabnya aku membolos lebih dari yang direncanakan. Aku baru kembali setelah istirahat, berhubung pelajaran setelah istirahat adalah olahraga, yang mustahil untuk ku ikuti, alhasil aku di sini sekarang. Di tempat rahasiaku.
Rasanya seneng banget bisa melewatkan begitu banyak jam pelajaran dalam satu hari. Aku bersyukur hari ini aku ada jadwal check up, sehingga aku tidak harus duduk diam mendengarkan para guru berceloteh. Yang nggak senang dengan keadaan ini adalah Abangku. Sepanjang jalan dari rumah sakit dia ngomel panjang lebar seputar kedisiplinan yang ku dengarkan sambil lalu. Abangku memang bermasalah dengan aturan, dia adalah orang yang tidak suka di kekang apalagi dibatasi oleh aturan.
Itulah sebabnya tahun-tahun kemarin Abangku sering bolos beberapa mata pelajaran. Dia lebih suka nongkrong di gudang bekas bersama gerombolannya ketimbang duduk di kelas. Untuk itulah pihak sekolah menutup akses menuju gudang itu, setelah pada tahun kemarin mereka menemukan ada yang sakaw di sana.
Untung saja waktu itu Abangku sedang tidak membolos. Apa jadinya bila penemuan seorang junkie di sana dikaitkan dengan sering bolosnya abang. Mungkin sekarang abang tak akan berada di sini. Gudang itu pun ku ketahui dari cerita abang. Dan sekarang gudang itu adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa bebas mengekspresikan diriku.
Kupasang headphone di telingaku, ku besarkan volumenya saat playlist musik dari i-phone ku melantunkan sebuah tembang kesukaanku. Kerispatih-Mengenangmu. Kuresapi setiap liriknya, ku pejamkan mataku untuk dapat lebih merasuk kesetiap baitnya. Sayang hari ini aku tak membawa gitar tuaku. Kalau saja sekarang ada gitar, sudah kumainkan lagu ini dengan gayaku. Aku memang mempunyai gaya tersendiri dalam bermain musik. Bermain musik adalah caraku untuk mengekspresikan suasana hatiku. Lewat musiklah aku dapat berbicara tentang keputusasaan yang sering ku rasakan.
Karena hanya lewat lantunan bait demi bait syair lagu itu yang dapat membuatku terlepas dari beban hidup yang menghimpit. Kutarik napas panjang sebelum kuhembuskan pelan. Jujur, aku kadang lelah dengan semua ini, keterbatasan gerak yang ku miliki membuatku tak bebas melakukan apa saja yang ku mau atau melakukan apa saja yang orang lain bisa lakukan. Tak jarang aku iri dengan mereka yang dapat bergerak bebas sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Melakukan banyak hal yang menyenangkan dengan bermain sepak bola bersama. Sepak bola adalah olahraga favoritku, namun sayang aku tak bisa lagi bermain sepak bola seperti dulu. Sekarang aku hanya dapat melihat dan mendukung siapa saja yang bermain. Bukan lagi didukung seperti dulu. Atau melakukan kegiatan lain yang lebih menyenangkan. Ngeband misalnya, suatu kegiatan yang terbilang positif dan berpotensi mendapatkan berlembar-lembar rupiah bila band itu mempunyai kualitas untuk di jual.
Walau begitu aku juga tak dapat ambil bagian dari kegiatan menyenangkan tersebut. Jadwal latihan band yang terkadang sampai lupa waktu mengharuskan ku membatalkan niat untuk bergabung dengan salah satu kelompok band yang terkenal di kotaku. Jadi, satu-satunya hal yang dapat menghiburku dari semua penolakan dunia terhadapku adalah bermain gitar, bermusik dengan gitar tua peninggalan papa.
Hanya dengan alat musik ini lah aku dapat berbicara. Abangku pun tak melarangku bermusik lewat dentingan gitar tua ini. Karena dia tahu hanya alat musik inilah yang tidak akan membahayakan jiwaku. Terkadang aku jengah dengan sikap protektif abang. Baginya, segala tindak tandukku harus berdasarkan persetujuannya. Dialah yang membuatku seperti seekor burung di sangkar emas. Tak bisa bergerak bebas, kepakan sayapnya hanyalah di sekitar sangkar. Aku ingin bebas, aku ingin menikmati dunia seperti orang lain. Bebas melakukan semua hal yang kusuka dan inginkan. Tapi sepertinya dunia memang tak menginginkanku. Dunia menolak kehadiranku, sehingga mengharuskanku menciptakan duniaku sendiri.
&&&
“Yakin lo Ra, mau ke sana sekarang?” bisik Mega tajam saat ia mendengar rencana Aura yang akan mengunjungi gudang masalah itu di tengah ulangan matematika seperti sekarang.
“Yakin banget!” tegas Aura dengan suara pelan.
“Gila lo! Lagi ulangan nih, nggak bisa nanti aja apa?!” cegah Mega.
“Aduh Ga, perasaan gue bilang, gue harus ke sana sekarang. Udah ah, lagian gue juga udah kelar ngerjain soalnya kok,” tekat Aura yang sekarang sudah berjalan menghampiri guru yang sedang memeriksa tugas dari beberapa siswa yang terlambat.
Melihat kelakuan sahabatnya itu Mega hanya menggelengkan kepalanya. “Sepertinya dia memang sudah kepelet dengan jin penunggu gudang masalah itu.” Gumam Mega dalam hati.
Aura bergegas menuju gudang kenangannya. Perasaannya mengatakan kalau orang yang sudah dicari-carinya sejak tadi pagi sekarang ada di sana. Dia benar-benar sudah tak sabar ingin bertemu dengan Ksatria, seseorang yang akhir-akhir ini sering nyasar di benaknya.
Ia menghela napas sebentar sebelum berjalan tanpa suara ke balik tembok gudang bekas. Perlahan ia julurkan kepalanya untuk melihat apakah dugaannya benar atau tidak. Senyum kelegaan menghiasi wajahnya, ternyata feelingnya tidak salah. Dia memang benar-benar ada di sana. Dengan headphone di kedua telinganya, dan lagi-lagi matanya terpejam seolah sedang menikmati alunan musik yang berputar di I-Phonenya.
Check up kali ini ternyata memakan banyak waktu, entah kenapa Om Ravi harus melakukan tes darah kali ini, padahal biasanya nggak. Itulah sebabnya aku membolos lebih dari yang direncanakan. Aku baru kembali setelah istirahat, berhubung pelajaran setelah istirahat adalah olahraga, yang mustahil untuk ku ikuti, alhasil aku di sini sekarang. Di tempat rahasiaku.
Rasanya seneng banget bisa melewatkan begitu banyak jam pelajaran dalam satu hari. Aku bersyukur hari ini aku ada jadwal check up, sehingga aku tidak harus duduk diam mendengarkan para guru berceloteh. Yang nggak senang dengan keadaan ini adalah Abangku. Sepanjang jalan dari rumah sakit dia ngomel panjang lebar seputar kedisiplinan yang ku dengarkan sambil lalu. Abangku memang bermasalah dengan aturan, dia adalah orang yang tidak suka di kekang apalagi dibatasi oleh aturan.
Itulah sebabnya tahun-tahun kemarin Abangku sering bolos beberapa mata pelajaran. Dia lebih suka nongkrong di gudang bekas bersama gerombolannya ketimbang duduk di kelas. Untuk itulah pihak sekolah menutup akses menuju gudang itu, setelah pada tahun kemarin mereka menemukan ada yang sakaw di sana.
Untung saja waktu itu Abangku sedang tidak membolos. Apa jadinya bila penemuan seorang junkie di sana dikaitkan dengan sering bolosnya abang. Mungkin sekarang abang tak akan berada di sini. Gudang itu pun ku ketahui dari cerita abang. Dan sekarang gudang itu adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa bebas mengekspresikan diriku.
Kupasang headphone di telingaku, ku besarkan volumenya saat playlist musik dari i-phone ku melantunkan sebuah tembang kesukaanku. Kerispatih-Mengenangmu. Kuresapi setiap liriknya, ku pejamkan mataku untuk dapat lebih merasuk kesetiap baitnya. Sayang hari ini aku tak membawa gitar tuaku. Kalau saja sekarang ada gitar, sudah kumainkan lagu ini dengan gayaku. Aku memang mempunyai gaya tersendiri dalam bermain musik. Bermain musik adalah caraku untuk mengekspresikan suasana hatiku. Lewat musiklah aku dapat berbicara tentang keputusasaan yang sering ku rasakan.
Karena hanya lewat lantunan bait demi bait syair lagu itu yang dapat membuatku terlepas dari beban hidup yang menghimpit. Kutarik napas panjang sebelum kuhembuskan pelan. Jujur, aku kadang lelah dengan semua ini, keterbatasan gerak yang ku miliki membuatku tak bebas melakukan apa saja yang ku mau atau melakukan apa saja yang orang lain bisa lakukan. Tak jarang aku iri dengan mereka yang dapat bergerak bebas sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Melakukan banyak hal yang menyenangkan dengan bermain sepak bola bersama. Sepak bola adalah olahraga favoritku, namun sayang aku tak bisa lagi bermain sepak bola seperti dulu. Sekarang aku hanya dapat melihat dan mendukung siapa saja yang bermain. Bukan lagi didukung seperti dulu. Atau melakukan kegiatan lain yang lebih menyenangkan. Ngeband misalnya, suatu kegiatan yang terbilang positif dan berpotensi mendapatkan berlembar-lembar rupiah bila band itu mempunyai kualitas untuk di jual.
Walau begitu aku juga tak dapat ambil bagian dari kegiatan menyenangkan tersebut. Jadwal latihan band yang terkadang sampai lupa waktu mengharuskan ku membatalkan niat untuk bergabung dengan salah satu kelompok band yang terkenal di kotaku. Jadi, satu-satunya hal yang dapat menghiburku dari semua penolakan dunia terhadapku adalah bermain gitar, bermusik dengan gitar tua peninggalan papa.
Hanya dengan alat musik ini lah aku dapat berbicara. Abangku pun tak melarangku bermusik lewat dentingan gitar tua ini. Karena dia tahu hanya alat musik inilah yang tidak akan membahayakan jiwaku. Terkadang aku jengah dengan sikap protektif abang. Baginya, segala tindak tandukku harus berdasarkan persetujuannya. Dialah yang membuatku seperti seekor burung di sangkar emas. Tak bisa bergerak bebas, kepakan sayapnya hanyalah di sekitar sangkar. Aku ingin bebas, aku ingin menikmati dunia seperti orang lain. Bebas melakukan semua hal yang kusuka dan inginkan. Tapi sepertinya dunia memang tak menginginkanku. Dunia menolak kehadiranku, sehingga mengharuskanku menciptakan duniaku sendiri.
&&&
“Yakin lo Ra, mau ke sana sekarang?” bisik Mega tajam saat ia mendengar rencana Aura yang akan mengunjungi gudang masalah itu di tengah ulangan matematika seperti sekarang.
“Yakin banget!” tegas Aura dengan suara pelan.
“Gila lo! Lagi ulangan nih, nggak bisa nanti aja apa?!” cegah Mega.
“Aduh Ga, perasaan gue bilang, gue harus ke sana sekarang. Udah ah, lagian gue juga udah kelar ngerjain soalnya kok,” tekat Aura yang sekarang sudah berjalan menghampiri guru yang sedang memeriksa tugas dari beberapa siswa yang terlambat.
Melihat kelakuan sahabatnya itu Mega hanya menggelengkan kepalanya. “Sepertinya dia memang sudah kepelet dengan jin penunggu gudang masalah itu.” Gumam Mega dalam hati.
Aura bergegas menuju gudang kenangannya. Perasaannya mengatakan kalau orang yang sudah dicari-carinya sejak tadi pagi sekarang ada di sana. Dia benar-benar sudah tak sabar ingin bertemu dengan Ksatria, seseorang yang akhir-akhir ini sering nyasar di benaknya.
Ia menghela napas sebentar sebelum berjalan tanpa suara ke balik tembok gudang bekas. Perlahan ia julurkan kepalanya untuk melihat apakah dugaannya benar atau tidak. Senyum kelegaan menghiasi wajahnya, ternyata feelingnya tidak salah. Dia memang benar-benar ada di sana. Dengan headphone di kedua telinganya, dan lagi-lagi matanya terpejam seolah sedang menikmati alunan musik yang berputar di I-Phonenya.
Jumat, 05 Oktober 2012
colour of sky 2
そら の いろ
Aura menguap untuk yang kesekian kalinya, ia benar-benar tak dapat menahan kantuknya. Udara siang yang panas ditambah dengan ceramah seputar kejadian di masa lalu, serasa seperti dongeng baginya. Kepalanya sudah berkali-kali terantuk, akibat ia sudah tak kuasa menahan kantuknya.
“Aura! Coba sebutkan negara-negara mana saja yang memulai perang dunia ke-2?!” pertanyaan tiba-tiba yang diajukan oleh Bu Husna, guru Sejarahnya, sontak mengembalikan kesadaran Aura yang tadi sempat menghilang.
“Ha!? Apa Bu?!” jawabnya gelagapan.
“Kamu tidak mendengarkan penjelasan ibu ya!?” tanya bu Husna dengan nada kesal.
“Ma... Maaf Bu,” ucap Aura lirih.
“Sudah cuci muka dulu sana! Kalau memang sudah tak ingin mengikuti pelajaran ibu, kamu boleh pulang sekarang juga!” ujar bu Husna tegas.
“Yaah... jangan gitu donk Bu. Iya deh Bu saya cuci muka dulu, permisi Bu,” ujar Aura yang segera pergi meninggalkan kelas diiringi semyuman geli dari teman-temannya.
Di sepanjang koridor menuju toilet, ia tak henti-hentinya bersungut-sungut merutuki kebodohannya yang mengantuk di kelas. Setelah membasuh wajahnya berkali-kali dengan air, kesadarannya pun perlahan timbul, rasa kantuk yang sedari tadi menyiksanya pun kini lenyap, tergantikan sebuah semangat untuk kembali ke kelas.
Ia melangkah dengan riang dengan sesekali tertawa kecil saat melihat beberapa siswa yang mendapat hukuman di lapangan entah apa yang menyebabkan mereka mendapat hukuman di tengah teriknya matahari. Lagi, di saat ia melewati koridor sempit gudang bekas itu, ia mendengar suara denting gitar, namun kali ini ia tak hanya mendengar suara alat musik itu saja. Ia juga mendengar seseorang yang sedang menyanyikan sebuah lagu sendu dengan suara bergetar.
Rasa penasaran kembali hinggap di benaknya, kali ini ia penasaran dengan orang yang menyanyikan lagu sendu itu. Dari suaranya yang merdu dan sedikit serak-dan bergetar-ia dapat menyimpulkan kalau pemilik suara itu orangnya cakep. Entah teori dari mana, yang jelas ia yakin bahwa siapapun itu pasti memiliki wajah yang cakep.
Perlahan ia berjalan mendekati gudang yang beberapa hari lalu telah membuatnya ketakutan. Ia melangkah pelan, tanpa menimbulkan suara. Ia tak mau mengusik kesyahduan yang tercipta dari suasana gudang yang sunyi dan suara lagu yang sendu. Kali ini ia tak mampir untuk melihat ke dalam gudang, melainkan berjalan terus melewatinya. Ia yakin pemilik suara itu berada di balik tembok di belakang gudang.
Suara itu semakin jelas, getaran suara yang tertangkap dari lagu itupun semakin jelas. Dengan sedikit menarik napas, ia melongok ke balik tembok di dekatnya. Ia tertegun setelah melihat apa yang ada di depannya. Seorang cowok yang sedang bersandar pada tembok dengan kaki bersila, mata tertutup, memetik gitar dengan jemarinya yang panjang dan bergetar. Bukan itu saja yang membuat Aura tertegun, air mata yang menghiasi wajah mulus itulah yang membuatnya membeku.
Entah mengapa ia dapat merasakan emosi yang sedang dialami cowok itu. Tak terasa air matanya pun meluruh satu-satu, lagu sendu itu begitu merasuk ke hatinya. Cara membawakannya yang benar-benar dari hati membuatnya dapat mengerti arti dari setiap liriknya. Cowok itu tidak sedang bernyanyi, melainkan sedang berbicara, ia seolah mengungkapkan isi hatinya lewat lirik yang dibawakan. Sehingga Aura pun dapat merasakan emosi yang sama seperti yang cowok itu rasakan. Sebuah kerinduan yang mendalam pada sosok ayah.
Apa yang membuatnya menyanyikan lagu itu begitu sempurna? Apakah ia memiliki kenangan tersendiri akan lagu itu? Berbagai pertanyaan berkelebat di benaknya, hingga tanpa sadar ia masih saja terpaku memandang cowok itu, yang kini telah mengakhiri permainan gitarnya. Ia cepat-cepat berbalik saat melihat cowok itu menoleh ke arahnya.
Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat, dapat ia rasakan ketegangan merayapi punggungnya. Ia yakin cowok itu tadi melihatnya tengah memandanginya. Perlahan ia kembali melongokkan kepalanya untuk melihat apakah cowok itu benar melihatnya atau tidak. Namun apa yang terjadi, pada saat ia menjulurkan kepalanya ia dikejutkan oleh kehadiran sosok itu tepat di depan matanya. Sontak ia pun berdiri tegak dan memandang cowok itu dengan ekspresi persis seperti maling ayam yang baru saja kepergok hansip.
Aura menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyum bersalah menghiasi wajahnya. “Eeem... Gu... Gue, gue tadi nggak sengaja. Iya... nggak sengaja denger lo nyanyi, kar... Karena penasaran, makanya gue samperin. Sorry kalau gue ganggu.” Ujar Aura terbata. Entah kenapa dia jadi salah tingkah seperti itu, pandangan tajam dan menyelidik dari cowok di depannya itu membuatnya seperti diintimidasi, sehingga ia mengungkapkan alasannya bahkan sebelum cowok itu bertanya.
Tak ada reaksi darinya, ia masih berdiri di depan Aura, dengan gitar di tangan kanan, dan tangan kiri yang berada di saku celana. Pandangannya masih tajam dan terasa menghakimi. Ia terlihat tidak senang dengan kehadiran Aura di sekitarnya. Dengan menghentakkan kaki karena kesal, ia pun pergi begitu saja dari hadapan Aura yang masih saja belum dapat mencerna seutuhnya dari kejadian yang baru saja dialaminya. Ia pandangi punggung cowok yang baru saja melewatinya. Ketika punggung itu menghilang di balik tembok, senyum manis terukir di wajahnya.
“Akhirnya gue tau juga siapa yang suka main gitar di sini. Tapi sayang gue nggak tau namanya. Kira-kira dia kelas berapa ya?” gumamnya lirih sebelum meninggalkan tempatnya berdiri.
&&&
“Ra, kemarin lo ngilang lama bener sih. Cuci muka aja sampe setengah jam. Lo cuci muka di Arab ya, sampe lama gitu?” pertanyaan pertama di pagi hari itu menyambut kedatangan Aura.
Aura hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan dari Mega. “Eeh, malah senyum-senyum aja, jawab donk.” Gerutu Mega.
“Sekarang gue udah tau Ga, siapa yang suka main gitar di gudang masalah itu. Atau mulai sekarang gue harus nyebut tempat itu gudang kenangan.” Jawab Aura dengan senyum yang semakin mekar.
“Serius lo!? Orang bukan?” tanya Mega ngaco.
“Serius Ga, oranglah masa hantu!” jawab Aura seraaya menoyor dahi Mega yang kini tersenyum lebar.
“Kirain, abisnya kemarin kan lo cerita, horor gitu.” Jawab Mega sekenanya. “Terus-terus, dia cewek apa cowok?”
“Cowok, dan cakep bangeet. Eh, kemarin dia nggak Cuma main gitar doank, tapi juga nyanyi. Dan lo tau nggak Ga, suaranya tuh, merdu banget. Gila, gue aja nih ya sampe terhanyut sama lagu yang dinyanyiin dia.” Jawab Aura berapi-api.
“Sampah kale terhanyut. Lebay ah lo,” ujar Mega tak percaya.
“Ih, serius Ga, suaranya tuh merdu banget. Dia tuh nyanyi udah kaya ngomong. Kena banget di hati,” Lanjut Aura semangat.
“Terus, lo sempet kenalan nggak sama dia?” tanya Mega menyelidik.
Aura hanya menggeleng lemah dengan senyum getir. “Nggak sempet. Dianya udah keburu pergi, lagian dia kaya’nya marah gitu deh sama gue.” Jawab Aura sendu.
“Kok lo bisa tau dia marah sama lo?” selidik Mega.
“Dari matanya Ga.” Jawab Aura tegas.
“Lo tau nggak Ra. Makin hari lo nih makin aneh aja. Apalagi sejak lo sering ke gudang itu. Lo itu udah kaya’ apa ya, orang yang kena pelet.” Ujar Mega ngawur.
“Pelet? Enak aja lo, sekarang udah nggak zaman kale main pelet-peletaan.” Ujar Aura ringan.
“Kalau bukan kena pelet, terus apa coba alasan yang bisa ngejelasin sikap lo yang aneh ini?” desak Mega.
“Entahlah, gue juga nggak ngerti. Gue bener-bener penasaran sama dia Ga,” ujar Aura menerawang. Mengakhiri perbincangan di pagi hari.
###
“Lo kemaren bolos lagi ya Ksat?” tanyaku langsung pada Ksatria yang sedang duduk mencangkung di sebuah bangku taman.
“Iya Bang, lo tau dari mana gue bolos?” jawabnya singkat. Matanya tak lepas memandangi koridor yang mulai ramai oleh siswa-siswa yang berebut jalan untuk segera sampai di kantin.
“Pak Togar bilang ke gue tadi. Lo kenapa sih akhir-akhir ini sering banget bolos? Seminggu ini aja lo udah hampir 3 kali bolos.” Ujarku tegas.
“Habis gue bosen Bang di kelas terus, mana pak Togar ngajarnya nggak asyik lagi.” Jawabnya ketus.
“Lo jangan gitu donk. Gitu-gitu pak Togar orangnya baik lho.” Ujarku menasehatinya.
“Bang, sampai kapan sih gue harus kaya gini terus. Lama-lama gue bosen Bang. Apa nggak bisa gue home schooling aja?” tanyanya lirih sambil memandangku lemah.
Aku menarik napas lelah. “Sampai lo bisa hidup sendiri tanpa gue.” Jawabku singkat. Dia hanya melengos mendengar jawabanku. “Denger ya Ksat, lo nggak bisa selamanya hidup sendiri, suatu saat lo juga butuh orang lain, itulah gunanya lo sekolah. Tempat lo bisa nyari temen, supaya lo lebih care sama orang lain. Kalau lo terus-terusan kaya gini, gue khawatir lo nggak bakal pernah punya temen selain gue.”
“Buat apa Bang gue punya temen banyak-banyak kalau toh akhirnya gue bakal ninggalin mereka semua. Lagian bagi gue udah cukup ada lo ama mama dalam hidup gue, nggak perlu orang lain lagi.” Jawabnya sedikit kesal. “Apa lo udah capek ngurus gue Bang, makanya lo bilang gitu?”
“Gue nggak akan pernah capek ngurus lo Ksat, gue Cuma mau lo punya orang lain dalam hidup lo yang singkat ini. Bukan Cuma gue ama mama aja, udah saatnya lo keluar dari cangkang lo.” jawabku bijak.
“Gue nggak mau ngelibatin orang lain Bang ke dalam hidup gue. Percuma gue deket dengan mereka kalau ujung-ujungnya gue harus ninggalin mereka. Gue nggak mau bikin orang lain sedih karena gue, kehilangan karena gue. Cukup lo ama mama aja, itu juga kalau gue boleh milih biar gue aja yang ngerasain sakit itu nggak usah kalian.” Jawabnya dengan suara bergetar.
“Terserah lo Ksat. Ini hidup lo, mau lo buat jadi kaya’ gimana itu terserah lo, gue Cuma bisa ngingetin lo aja biar lo nggak sampai tersesat di hidup lo sendiri.” ujarku singkat seraya membelai punggungnya lembut. Dia memang butuh perhatian lebih dariku, agar tak merasa sendiri terus.
“Gue kangen papa Bang,” ujarnya lirih.
“Ya udah pulang nanti kita mampir ke makam papa,” jawabku tak kalah lirih, mengakhiri perbincangan singkat kami.
@@@
“Ga, coba geh lo liat ke sana,” ujar Aura tiba-tiba seraya menunjuk salah satu sudut kantin yang siang itu tampak begitu ramai.
“Hem?! Apaan Ra?” tanya Mega tak mengerti, pandangannya memindai seluruh isi kantin, berusaha mencari apa yang dimaksud sahabatnya itu.
“Itu, coba geh lo liat di meja yang deket tukang somay.” Ujar Aura seraya menunjuk arah di mana yang ia maksudkan berada.
“Iya gue liat. Emang ada apaan sih di sana?” tanya Mega semakin tak mengerti.
“Lo liat cowok yang lagi makan somay itu?” tanya Aura antusias.
“Iya, kenapa? Lo naksir sama dia?” tanya Mega telak.
“Itu cowok yang gue bilang kemarin Ga!” jawab Aura semangat.
Mega sedikit tersedak mendengar penuturan Aura yang tiba-tiba. “Apa lo bilang!? Cowok itu cowok yang lo temuin di gudang masalah kemaren!? Yakin lo nggak salah liat!?”
“Swear deh, dia itu cowok yang kemaren. Kenapa sih lo heboh gitu? Lo kenal sama tuh cowok?” tanya Aura heran melihat temannya yang bereaksi diluar dugaannya.
“Seluruh sekolah juga tau kali siapa cowok itu. Dia kan adiknya Yudha, lo tau Yudha kan? Ketua gank berandal yang tahun kemaren abis diciduk di gudang itu karena ketauan ngerokok?” jawab Mega lirih.
“Tau lah, gue nggak kamseupay banget kale sampe-sampe Yudha aja nggak tau. Tapi, masa’ sih dia adiknya? Beda gitu.” Ujar Aura tak percaya begitu saja.
“Lo sih pake’ acara kena tipus segala, jadi nggak tau kan perkembangan terbaru di sekolah kita.” Ujar Mega meledek.
“Yee, kalau itu mah jangan salahin gue donk, salahin aja tuh penyakit kenapa nemplok di gue lama banget.” Jawab Aura tak terima dengan sindiran Mega. “Tapi Ga, gue nggak percaya kalau tuh cowok adiknya Yudha. Lo liat aja geh, dari segi tampang aja udah beda jauh. Si Yudha sangar gitu, lah adiknya? Body juga beda jauh. Yudha atletis gitu, adiknya? Bener-bener nggak ada mirip-miripnya tau,”
“Kalau dari fisik sih emang beda jauh. Tapi kalau dari tampang mereka nggak jauh-jauh amat kok bedanya. Yudha keren, nah si Ksatria cool. Tapi lo jangan salah Ra, kelakuan mereka itu nggak jauh beda, sama-sama bermasalah.” Ungkap Mega serius.
“Jadi namanya Satria?” ulang Aura pelan.
“Bukan, bukan Satria tapi Ksatria, ada K di depan awalan S-nya.” Ralat Mega.
“Hah!? Aneh bener sih, Ksatria? Body lepay gitu dinamain Ksatria?! nggak banget deh.” Ujar Aura sedikit mengejek.
“Tau tuh, dia mah lebih sering di panggil Ksatria bergitar sama anak-anak seangkatannya, gara-gara tuh cowok suka bawa gitar kemana-mana,” lanjut Mega dengan senyum geli.
“Udah kaya penyanyi dangdut aja sih Ksatria bergitar!?” timpal Aura dengan terkekeh geli.
“Saran gue nih ya Ra, mendingan lo jauh-jauh deh dari mereka. Mulai sekarang lo lupain deh rencana lo buat deket sama si Ksatria itu.” Ujar Mega serius.
“Emang kenapa kalo gue deket-deket mereka, toh sekarang Yudha nggak sesangar dulu. Gue rasa nggak ada salahnya buat jadi temen mereka.” Ujar Aura yakin.
“Lo bisa kena masalah kalau keseringan gaul ama mereka Ra. Percaya deh, mereka itu nggak baik buat lo,” tegas Mega.
“Oke, mungkin Yudha emang nggak baik buat gue, tapi kalo Ksatria? Gue rasa nggak deh, dari caranya main gitar ama nyanyi gue yakin dia orangnya baik.” Jawab Aura tegas.
“Lo nggak bisa nilai orang Cuma dari caranya nyanyi ama maen gitar Ra. Dan lo boleh percaya boleh nggak, si Ksatria itu orangnya anti sosial. Nggak pernah tuh gue liat dia gaul sama orang lain kecuali si Yudha.” Lanjut Mega.
“Iya sih gue ngerti. Tapi, gue tetep pada rencana gue buat deket sama mereka, terutama Ksatria.” Tegas Aura.
“Kenapa sih lo ngebet banget pengen deket sama dia? Lo beneran naksir sama dia?” selidik Mega.
“Gue nggak bisa bilang alesannya ke lo Ga. Nggak sekarang.” Jawab Aura lirih. Ia tak bisa mengatakan kalau alasannya ingin lebih mengenal Ksatria karena penasaran apa yang menyebabkan cowok itu sampai menangis Cuma gara-gara satu buah lagu. Dan dia juga penasaran apa yang membuatnya sering menyendiri di tempat itu.
“Terseraah lo lah Ra. Yang jelas gue udah ngingetin lo,” ujar Mega pasrah.
###
“Ksat, besok tempatmu pelajaran apa aja?” tanyaku saat kulihat Ksatria duduk melamun di meja belajarnya.
“Biologi, Kimia, Bahasa Indonesia, Olahraga, sama Seni musik. Kenapa Bang?” tanyanya malas-malasan.
“Lo besok bolos jam pertama ya,” ujarku yang membuatnya menatapku heran.
“Tumben Bang lo ngajakin gue bolos, biasanya juga lo ngomel-ngomel kalau gue bolos. Ada apa?” tanyanya curiga.
“Besok jadwal lo check up, makanya gue ajakin lo bolos.” Jawabku singkat.
“Yaelah Bang, kirain mau ngajakin kemana, taunya.” Sungutnya.
“Jangan lemes gitu donk, jangan bilang lo nggak suka bolos jam pertama?!” tanyaku menggodanya.
“Gue mah seneng-seneng aja Bang lo ajakin bolos, yang bikin males tuh pergi ke sana, bosen gue Bang.” Gerutunya seraya merebahkan badannya. Kulihat dia menerawang ke langit-langit, entah apa yang sedang dipikirkannya. Ku hampiri dia, dan ikut merebahkan tubuhku di sampingnya.
“Apa yang lagi lo pikirin?” tanyaku sambil lalu.
“Sampai kapan sih Bang gue harus kaya’ gini. Bolak balik ke sana, ketemu orang itu mulu, denger hal-hal yang itu-itu mulu. Minum obat yang nggak enak itu terus, lama-lama gue bosen Bang. Mendingan gue cepet-cepet ketemu papa deh daripada gini-gini terus.” Ujarnya lelah.
Kujitak kepalanya pelan. “Hush, lo nggak boleh ngomong gitu. Lo harus tetep berjuang buat sembuh, demi gue, demi mama yang tiap hari kerja keras Cuma buat lo. Jangan kecewain beliau dengan keluhan lo yang itu-itu mulu. Bahkan lo ngeluh juga gitu-gitu mulu dari dulu.” Ujarku bijak, terkadang aku kasihan juga dengan Ksatria, di usianya yang masih muda ini dia sudah harus menerima garis hidupnya yang singkat.
“Justru itu Bang, gue kasihan liat mama tiap hari kerja keras Cuma buat nebus obat gue. Kalau gue cepet ketemu papa kan mama nggak harus banting tulang kaya gini.” Jawabnya cepat.
“Iya, terus bikin mama sedih, nangisin kepergian lo. Lo tau, Cuma lo yang bisa bikin mama senyum. Harapan yang di kasih dokter buat lo lah yang bikin mama nggak pernah ngeluh walau udah kerja keras gini.” Jawabku bijak.
“Tetep aja Bang, gue kasihan sama mama. Kalau bisa tuh lo aja yang banting tulang buat gue jangan mama,” ujarnya usil.
“Ho’oh, terus lo mau ngeliat mama stroke mendadak liat gue di DO sama sekolah, gara-gara bolos sekolah demi kerjaan yang nggak seberapa!?” jawabku seraya menjitak kepalanya.
“Au, sakit tau Bang, lo ini kalau jitak rada pelan dikit nggak bisa apa? Peyang nih lama-lama kepala gue, lo jitakin mulu.” Sungutnya seraya mengusap-usap kepalanya yang tadi terkena jitakanku.
“Ya habisnya lo ngomong ngak pake’ mikir dulu sih,” ujarku dengan tawa lepas.
“Bang, besok gue aja ya yang bawa motornya,” ujarnya memohon, setelah keadaan hening sejenak.
“Lo mau ngajakin gue mati muda!?” jawabku seraya bangkit menuju kamarku yang bersebelahan dengan kamarnya.
“Yaelah Bang, sekalii ini aja Bang,” rayunya.
“Nggak, gue masih mau hidup.” Jawabku tegas.
“Pelit lo Bang!” gerutunya kesal. Bukannya aku nggak ngebolehin dia bawa motor, Cuma karena kesehatannya yang nggak memungkinkan maka sebisa mungkin aku nggak mengijinkan dia bawa kendaraan itu.
&&&
Pagi ini dilewati Aura dengan uring-uringan, pasalnya dia tadi pagi sudah sengaja datang agak siangan, berharap bisa bertemu Ksatria di gudang itu. Tapi, hanya udara kosong yang ia temui di sana. Saat jam pelajaran pun dia sengaja bolak balik ke toilet Cuma untuk mengecek apakah dia bolos atau tidak. Dan lagi-lagi nihil, rencananya nanti waktu istirahat dia akan menunggu di tempat itu sampai Ksatria datang.
Dia masih penasaran dengan coeok itu, dia ingin mengobrol banyak dan menjadi dekat dengannya. Terutama dia ingin mendengarnya bernyanyi dan memainkan gitarnya. Sejak hari di mana dia bertemu dengan Ksatria untuk yang pertama kali, dia sudah jatuh hati pada cowok itu, bahkan sebelum mereka bertatap muka. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya.
“Ra, lo kenapa sih, dari tadi gelisah mulu. Lagi dapet ya?” bisik Mega, saat ini mereka sedang mendengarkan kuliah tentang bagaimana anggota DPR bekerja.
“Nggak kenapa-napa kok Ga,” jawab Aura sambil lalu, matanya tak lepas dari papan tulis yang kini menyajikan diagram pemerintahan pusat.
“Nggak kenapa-napa kok dari tadi lo bolak balik ke toilet sih?” selidik Mega.
“Emang nggak boleh kalau gue bolak balik ke toilet?” balas Aura jengah.
“Nggak juga sih, Cuma aneh aja. Nggak biasanya lo bolak balik ke toilet, ada apaan sih?” tanya Mega lebih lanjut.
Aura menarik napas pelan dan memandang Mega serius. “Gue bolak balik ke toilet Cuma buat mastiin satu hal.” Jawab Aura serius.
“Mastiin apa?” kejar Mega.
“Mastiin dia ada di sana apa nggak!” jawab Aura tegas.
“Dia?? Maksud lo si Ksatri Bergitar itu?” tanya Mega dengan wajah terkejut.
“Siapa lagi?” jawab Aura retoris.
“Ya Ampun Ra, segitunya lo ngefans sama dia, sampai-sampai lo samperin tempat nongkrongnya yang angker itu berkali-kali. Ckck,,,” ujar Mega, seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dia benar-benar heran dengan kelakuan sahabatnya yang mendadak demen banget nyamperin tempat paling berbahaya di SMANSAGA.
“Ya habisnya, gue penasaran banget sama dia.” Jawab Aura sambil lalu.
“Terus lo ketemu sama dia?” tanya Mega ingin tahu.
Aura hanya menggeleng lemah. “Nggak berangkat kali anaknya,” jawabnya lemah.
“Atau nggak, dia lagi nggak bolos, makanya nggak ada di sana,” imbuh Mega.
“Bisa jadi, makanya ntar istirahat gue mau ke sana lagi. Siapa tau dia ada di sana,” ujar Aura dengan senyum mengembang.
Mega hanya menggeleng pelan melihat sahabatnya yang sepertinya sudah terkena sihir si Ksatria Bergitar. “Gue doain semoga lo bisa ketemu deh sama si Ksatria dangdut itu,” ujar Mega dengan senyum geli.
“Enak aja dangdut! Emangnya lo yang suka nyanyi dangdut!?” gerutu Aura pelan.
Aura menguap untuk yang kesekian kalinya, ia benar-benar tak dapat menahan kantuknya. Udara siang yang panas ditambah dengan ceramah seputar kejadian di masa lalu, serasa seperti dongeng baginya. Kepalanya sudah berkali-kali terantuk, akibat ia sudah tak kuasa menahan kantuknya.
“Aura! Coba sebutkan negara-negara mana saja yang memulai perang dunia ke-2?!” pertanyaan tiba-tiba yang diajukan oleh Bu Husna, guru Sejarahnya, sontak mengembalikan kesadaran Aura yang tadi sempat menghilang.
“Ha!? Apa Bu?!” jawabnya gelagapan.
“Kamu tidak mendengarkan penjelasan ibu ya!?” tanya bu Husna dengan nada kesal.
“Ma... Maaf Bu,” ucap Aura lirih.
“Sudah cuci muka dulu sana! Kalau memang sudah tak ingin mengikuti pelajaran ibu, kamu boleh pulang sekarang juga!” ujar bu Husna tegas.
“Yaah... jangan gitu donk Bu. Iya deh Bu saya cuci muka dulu, permisi Bu,” ujar Aura yang segera pergi meninggalkan kelas diiringi semyuman geli dari teman-temannya.
Di sepanjang koridor menuju toilet, ia tak henti-hentinya bersungut-sungut merutuki kebodohannya yang mengantuk di kelas. Setelah membasuh wajahnya berkali-kali dengan air, kesadarannya pun perlahan timbul, rasa kantuk yang sedari tadi menyiksanya pun kini lenyap, tergantikan sebuah semangat untuk kembali ke kelas.
Ia melangkah dengan riang dengan sesekali tertawa kecil saat melihat beberapa siswa yang mendapat hukuman di lapangan entah apa yang menyebabkan mereka mendapat hukuman di tengah teriknya matahari. Lagi, di saat ia melewati koridor sempit gudang bekas itu, ia mendengar suara denting gitar, namun kali ini ia tak hanya mendengar suara alat musik itu saja. Ia juga mendengar seseorang yang sedang menyanyikan sebuah lagu sendu dengan suara bergetar.
Rasa penasaran kembali hinggap di benaknya, kali ini ia penasaran dengan orang yang menyanyikan lagu sendu itu. Dari suaranya yang merdu dan sedikit serak-dan bergetar-ia dapat menyimpulkan kalau pemilik suara itu orangnya cakep. Entah teori dari mana, yang jelas ia yakin bahwa siapapun itu pasti memiliki wajah yang cakep.
Perlahan ia berjalan mendekati gudang yang beberapa hari lalu telah membuatnya ketakutan. Ia melangkah pelan, tanpa menimbulkan suara. Ia tak mau mengusik kesyahduan yang tercipta dari suasana gudang yang sunyi dan suara lagu yang sendu. Kali ini ia tak mampir untuk melihat ke dalam gudang, melainkan berjalan terus melewatinya. Ia yakin pemilik suara itu berada di balik tembok di belakang gudang.
Suara itu semakin jelas, getaran suara yang tertangkap dari lagu itupun semakin jelas. Dengan sedikit menarik napas, ia melongok ke balik tembok di dekatnya. Ia tertegun setelah melihat apa yang ada di depannya. Seorang cowok yang sedang bersandar pada tembok dengan kaki bersila, mata tertutup, memetik gitar dengan jemarinya yang panjang dan bergetar. Bukan itu saja yang membuat Aura tertegun, air mata yang menghiasi wajah mulus itulah yang membuatnya membeku.
Entah mengapa ia dapat merasakan emosi yang sedang dialami cowok itu. Tak terasa air matanya pun meluruh satu-satu, lagu sendu itu begitu merasuk ke hatinya. Cara membawakannya yang benar-benar dari hati membuatnya dapat mengerti arti dari setiap liriknya. Cowok itu tidak sedang bernyanyi, melainkan sedang berbicara, ia seolah mengungkapkan isi hatinya lewat lirik yang dibawakan. Sehingga Aura pun dapat merasakan emosi yang sama seperti yang cowok itu rasakan. Sebuah kerinduan yang mendalam pada sosok ayah.
Apa yang membuatnya menyanyikan lagu itu begitu sempurna? Apakah ia memiliki kenangan tersendiri akan lagu itu? Berbagai pertanyaan berkelebat di benaknya, hingga tanpa sadar ia masih saja terpaku memandang cowok itu, yang kini telah mengakhiri permainan gitarnya. Ia cepat-cepat berbalik saat melihat cowok itu menoleh ke arahnya.
Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat, dapat ia rasakan ketegangan merayapi punggungnya. Ia yakin cowok itu tadi melihatnya tengah memandanginya. Perlahan ia kembali melongokkan kepalanya untuk melihat apakah cowok itu benar melihatnya atau tidak. Namun apa yang terjadi, pada saat ia menjulurkan kepalanya ia dikejutkan oleh kehadiran sosok itu tepat di depan matanya. Sontak ia pun berdiri tegak dan memandang cowok itu dengan ekspresi persis seperti maling ayam yang baru saja kepergok hansip.
Aura menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyum bersalah menghiasi wajahnya. “Eeem... Gu... Gue, gue tadi nggak sengaja. Iya... nggak sengaja denger lo nyanyi, kar... Karena penasaran, makanya gue samperin. Sorry kalau gue ganggu.” Ujar Aura terbata. Entah kenapa dia jadi salah tingkah seperti itu, pandangan tajam dan menyelidik dari cowok di depannya itu membuatnya seperti diintimidasi, sehingga ia mengungkapkan alasannya bahkan sebelum cowok itu bertanya.
Tak ada reaksi darinya, ia masih berdiri di depan Aura, dengan gitar di tangan kanan, dan tangan kiri yang berada di saku celana. Pandangannya masih tajam dan terasa menghakimi. Ia terlihat tidak senang dengan kehadiran Aura di sekitarnya. Dengan menghentakkan kaki karena kesal, ia pun pergi begitu saja dari hadapan Aura yang masih saja belum dapat mencerna seutuhnya dari kejadian yang baru saja dialaminya. Ia pandangi punggung cowok yang baru saja melewatinya. Ketika punggung itu menghilang di balik tembok, senyum manis terukir di wajahnya.
“Akhirnya gue tau juga siapa yang suka main gitar di sini. Tapi sayang gue nggak tau namanya. Kira-kira dia kelas berapa ya?” gumamnya lirih sebelum meninggalkan tempatnya berdiri.
&&&
“Ra, kemarin lo ngilang lama bener sih. Cuci muka aja sampe setengah jam. Lo cuci muka di Arab ya, sampe lama gitu?” pertanyaan pertama di pagi hari itu menyambut kedatangan Aura.
Aura hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan dari Mega. “Eeh, malah senyum-senyum aja, jawab donk.” Gerutu Mega.
“Sekarang gue udah tau Ga, siapa yang suka main gitar di gudang masalah itu. Atau mulai sekarang gue harus nyebut tempat itu gudang kenangan.” Jawab Aura dengan senyum yang semakin mekar.
“Serius lo!? Orang bukan?” tanya Mega ngaco.
“Serius Ga, oranglah masa hantu!” jawab Aura seraaya menoyor dahi Mega yang kini tersenyum lebar.
“Kirain, abisnya kemarin kan lo cerita, horor gitu.” Jawab Mega sekenanya. “Terus-terus, dia cewek apa cowok?”
“Cowok, dan cakep bangeet. Eh, kemarin dia nggak Cuma main gitar doank, tapi juga nyanyi. Dan lo tau nggak Ga, suaranya tuh, merdu banget. Gila, gue aja nih ya sampe terhanyut sama lagu yang dinyanyiin dia.” Jawab Aura berapi-api.
“Sampah kale terhanyut. Lebay ah lo,” ujar Mega tak percaya.
“Ih, serius Ga, suaranya tuh merdu banget. Dia tuh nyanyi udah kaya ngomong. Kena banget di hati,” Lanjut Aura semangat.
“Terus, lo sempet kenalan nggak sama dia?” tanya Mega menyelidik.
Aura hanya menggeleng lemah dengan senyum getir. “Nggak sempet. Dianya udah keburu pergi, lagian dia kaya’nya marah gitu deh sama gue.” Jawab Aura sendu.
“Kok lo bisa tau dia marah sama lo?” selidik Mega.
“Dari matanya Ga.” Jawab Aura tegas.
“Lo tau nggak Ra. Makin hari lo nih makin aneh aja. Apalagi sejak lo sering ke gudang itu. Lo itu udah kaya’ apa ya, orang yang kena pelet.” Ujar Mega ngawur.
“Pelet? Enak aja lo, sekarang udah nggak zaman kale main pelet-peletaan.” Ujar Aura ringan.
“Kalau bukan kena pelet, terus apa coba alasan yang bisa ngejelasin sikap lo yang aneh ini?” desak Mega.
“Entahlah, gue juga nggak ngerti. Gue bener-bener penasaran sama dia Ga,” ujar Aura menerawang. Mengakhiri perbincangan di pagi hari.
###
“Lo kemaren bolos lagi ya Ksat?” tanyaku langsung pada Ksatria yang sedang duduk mencangkung di sebuah bangku taman.
“Iya Bang, lo tau dari mana gue bolos?” jawabnya singkat. Matanya tak lepas memandangi koridor yang mulai ramai oleh siswa-siswa yang berebut jalan untuk segera sampai di kantin.
“Pak Togar bilang ke gue tadi. Lo kenapa sih akhir-akhir ini sering banget bolos? Seminggu ini aja lo udah hampir 3 kali bolos.” Ujarku tegas.
“Habis gue bosen Bang di kelas terus, mana pak Togar ngajarnya nggak asyik lagi.” Jawabnya ketus.
“Lo jangan gitu donk. Gitu-gitu pak Togar orangnya baik lho.” Ujarku menasehatinya.
“Bang, sampai kapan sih gue harus kaya gini terus. Lama-lama gue bosen Bang. Apa nggak bisa gue home schooling aja?” tanyanya lirih sambil memandangku lemah.
Aku menarik napas lelah. “Sampai lo bisa hidup sendiri tanpa gue.” Jawabku singkat. Dia hanya melengos mendengar jawabanku. “Denger ya Ksat, lo nggak bisa selamanya hidup sendiri, suatu saat lo juga butuh orang lain, itulah gunanya lo sekolah. Tempat lo bisa nyari temen, supaya lo lebih care sama orang lain. Kalau lo terus-terusan kaya gini, gue khawatir lo nggak bakal pernah punya temen selain gue.”
“Buat apa Bang gue punya temen banyak-banyak kalau toh akhirnya gue bakal ninggalin mereka semua. Lagian bagi gue udah cukup ada lo ama mama dalam hidup gue, nggak perlu orang lain lagi.” Jawabnya sedikit kesal. “Apa lo udah capek ngurus gue Bang, makanya lo bilang gitu?”
“Gue nggak akan pernah capek ngurus lo Ksat, gue Cuma mau lo punya orang lain dalam hidup lo yang singkat ini. Bukan Cuma gue ama mama aja, udah saatnya lo keluar dari cangkang lo.” jawabku bijak.
“Gue nggak mau ngelibatin orang lain Bang ke dalam hidup gue. Percuma gue deket dengan mereka kalau ujung-ujungnya gue harus ninggalin mereka. Gue nggak mau bikin orang lain sedih karena gue, kehilangan karena gue. Cukup lo ama mama aja, itu juga kalau gue boleh milih biar gue aja yang ngerasain sakit itu nggak usah kalian.” Jawabnya dengan suara bergetar.
“Terserah lo Ksat. Ini hidup lo, mau lo buat jadi kaya’ gimana itu terserah lo, gue Cuma bisa ngingetin lo aja biar lo nggak sampai tersesat di hidup lo sendiri.” ujarku singkat seraya membelai punggungnya lembut. Dia memang butuh perhatian lebih dariku, agar tak merasa sendiri terus.
“Gue kangen papa Bang,” ujarnya lirih.
“Ya udah pulang nanti kita mampir ke makam papa,” jawabku tak kalah lirih, mengakhiri perbincangan singkat kami.
@@@
“Ga, coba geh lo liat ke sana,” ujar Aura tiba-tiba seraya menunjuk salah satu sudut kantin yang siang itu tampak begitu ramai.
“Hem?! Apaan Ra?” tanya Mega tak mengerti, pandangannya memindai seluruh isi kantin, berusaha mencari apa yang dimaksud sahabatnya itu.
“Itu, coba geh lo liat di meja yang deket tukang somay.” Ujar Aura seraya menunjuk arah di mana yang ia maksudkan berada.
“Iya gue liat. Emang ada apaan sih di sana?” tanya Mega semakin tak mengerti.
“Lo liat cowok yang lagi makan somay itu?” tanya Aura antusias.
“Iya, kenapa? Lo naksir sama dia?” tanya Mega telak.
“Itu cowok yang gue bilang kemarin Ga!” jawab Aura semangat.
Mega sedikit tersedak mendengar penuturan Aura yang tiba-tiba. “Apa lo bilang!? Cowok itu cowok yang lo temuin di gudang masalah kemaren!? Yakin lo nggak salah liat!?”
“Swear deh, dia itu cowok yang kemaren. Kenapa sih lo heboh gitu? Lo kenal sama tuh cowok?” tanya Aura heran melihat temannya yang bereaksi diluar dugaannya.
“Seluruh sekolah juga tau kali siapa cowok itu. Dia kan adiknya Yudha, lo tau Yudha kan? Ketua gank berandal yang tahun kemaren abis diciduk di gudang itu karena ketauan ngerokok?” jawab Mega lirih.
“Tau lah, gue nggak kamseupay banget kale sampe-sampe Yudha aja nggak tau. Tapi, masa’ sih dia adiknya? Beda gitu.” Ujar Aura tak percaya begitu saja.
“Lo sih pake’ acara kena tipus segala, jadi nggak tau kan perkembangan terbaru di sekolah kita.” Ujar Mega meledek.
“Yee, kalau itu mah jangan salahin gue donk, salahin aja tuh penyakit kenapa nemplok di gue lama banget.” Jawab Aura tak terima dengan sindiran Mega. “Tapi Ga, gue nggak percaya kalau tuh cowok adiknya Yudha. Lo liat aja geh, dari segi tampang aja udah beda jauh. Si Yudha sangar gitu, lah adiknya? Body juga beda jauh. Yudha atletis gitu, adiknya? Bener-bener nggak ada mirip-miripnya tau,”
“Kalau dari fisik sih emang beda jauh. Tapi kalau dari tampang mereka nggak jauh-jauh amat kok bedanya. Yudha keren, nah si Ksatria cool. Tapi lo jangan salah Ra, kelakuan mereka itu nggak jauh beda, sama-sama bermasalah.” Ungkap Mega serius.
“Jadi namanya Satria?” ulang Aura pelan.
“Bukan, bukan Satria tapi Ksatria, ada K di depan awalan S-nya.” Ralat Mega.
“Hah!? Aneh bener sih, Ksatria? Body lepay gitu dinamain Ksatria?! nggak banget deh.” Ujar Aura sedikit mengejek.
“Tau tuh, dia mah lebih sering di panggil Ksatria bergitar sama anak-anak seangkatannya, gara-gara tuh cowok suka bawa gitar kemana-mana,” lanjut Mega dengan senyum geli.
“Udah kaya penyanyi dangdut aja sih Ksatria bergitar!?” timpal Aura dengan terkekeh geli.
“Saran gue nih ya Ra, mendingan lo jauh-jauh deh dari mereka. Mulai sekarang lo lupain deh rencana lo buat deket sama si Ksatria itu.” Ujar Mega serius.
“Emang kenapa kalo gue deket-deket mereka, toh sekarang Yudha nggak sesangar dulu. Gue rasa nggak ada salahnya buat jadi temen mereka.” Ujar Aura yakin.
“Lo bisa kena masalah kalau keseringan gaul ama mereka Ra. Percaya deh, mereka itu nggak baik buat lo,” tegas Mega.
“Oke, mungkin Yudha emang nggak baik buat gue, tapi kalo Ksatria? Gue rasa nggak deh, dari caranya main gitar ama nyanyi gue yakin dia orangnya baik.” Jawab Aura tegas.
“Lo nggak bisa nilai orang Cuma dari caranya nyanyi ama maen gitar Ra. Dan lo boleh percaya boleh nggak, si Ksatria itu orangnya anti sosial. Nggak pernah tuh gue liat dia gaul sama orang lain kecuali si Yudha.” Lanjut Mega.
“Iya sih gue ngerti. Tapi, gue tetep pada rencana gue buat deket sama mereka, terutama Ksatria.” Tegas Aura.
“Kenapa sih lo ngebet banget pengen deket sama dia? Lo beneran naksir sama dia?” selidik Mega.
“Gue nggak bisa bilang alesannya ke lo Ga. Nggak sekarang.” Jawab Aura lirih. Ia tak bisa mengatakan kalau alasannya ingin lebih mengenal Ksatria karena penasaran apa yang menyebabkan cowok itu sampai menangis Cuma gara-gara satu buah lagu. Dan dia juga penasaran apa yang membuatnya sering menyendiri di tempat itu.
“Terseraah lo lah Ra. Yang jelas gue udah ngingetin lo,” ujar Mega pasrah.
###
“Ksat, besok tempatmu pelajaran apa aja?” tanyaku saat kulihat Ksatria duduk melamun di meja belajarnya.
“Biologi, Kimia, Bahasa Indonesia, Olahraga, sama Seni musik. Kenapa Bang?” tanyanya malas-malasan.
“Lo besok bolos jam pertama ya,” ujarku yang membuatnya menatapku heran.
“Tumben Bang lo ngajakin gue bolos, biasanya juga lo ngomel-ngomel kalau gue bolos. Ada apa?” tanyanya curiga.
“Besok jadwal lo check up, makanya gue ajakin lo bolos.” Jawabku singkat.
“Yaelah Bang, kirain mau ngajakin kemana, taunya.” Sungutnya.
“Jangan lemes gitu donk, jangan bilang lo nggak suka bolos jam pertama?!” tanyaku menggodanya.
“Gue mah seneng-seneng aja Bang lo ajakin bolos, yang bikin males tuh pergi ke sana, bosen gue Bang.” Gerutunya seraya merebahkan badannya. Kulihat dia menerawang ke langit-langit, entah apa yang sedang dipikirkannya. Ku hampiri dia, dan ikut merebahkan tubuhku di sampingnya.
“Apa yang lagi lo pikirin?” tanyaku sambil lalu.
“Sampai kapan sih Bang gue harus kaya’ gini. Bolak balik ke sana, ketemu orang itu mulu, denger hal-hal yang itu-itu mulu. Minum obat yang nggak enak itu terus, lama-lama gue bosen Bang. Mendingan gue cepet-cepet ketemu papa deh daripada gini-gini terus.” Ujarnya lelah.
Kujitak kepalanya pelan. “Hush, lo nggak boleh ngomong gitu. Lo harus tetep berjuang buat sembuh, demi gue, demi mama yang tiap hari kerja keras Cuma buat lo. Jangan kecewain beliau dengan keluhan lo yang itu-itu mulu. Bahkan lo ngeluh juga gitu-gitu mulu dari dulu.” Ujarku bijak, terkadang aku kasihan juga dengan Ksatria, di usianya yang masih muda ini dia sudah harus menerima garis hidupnya yang singkat.
“Justru itu Bang, gue kasihan liat mama tiap hari kerja keras Cuma buat nebus obat gue. Kalau gue cepet ketemu papa kan mama nggak harus banting tulang kaya gini.” Jawabnya cepat.
“Iya, terus bikin mama sedih, nangisin kepergian lo. Lo tau, Cuma lo yang bisa bikin mama senyum. Harapan yang di kasih dokter buat lo lah yang bikin mama nggak pernah ngeluh walau udah kerja keras gini.” Jawabku bijak.
“Tetep aja Bang, gue kasihan sama mama. Kalau bisa tuh lo aja yang banting tulang buat gue jangan mama,” ujarnya usil.
“Ho’oh, terus lo mau ngeliat mama stroke mendadak liat gue di DO sama sekolah, gara-gara bolos sekolah demi kerjaan yang nggak seberapa!?” jawabku seraya menjitak kepalanya.
“Au, sakit tau Bang, lo ini kalau jitak rada pelan dikit nggak bisa apa? Peyang nih lama-lama kepala gue, lo jitakin mulu.” Sungutnya seraya mengusap-usap kepalanya yang tadi terkena jitakanku.
“Ya habisnya lo ngomong ngak pake’ mikir dulu sih,” ujarku dengan tawa lepas.
“Bang, besok gue aja ya yang bawa motornya,” ujarnya memohon, setelah keadaan hening sejenak.
“Lo mau ngajakin gue mati muda!?” jawabku seraya bangkit menuju kamarku yang bersebelahan dengan kamarnya.
“Yaelah Bang, sekalii ini aja Bang,” rayunya.
“Nggak, gue masih mau hidup.” Jawabku tegas.
“Pelit lo Bang!” gerutunya kesal. Bukannya aku nggak ngebolehin dia bawa motor, Cuma karena kesehatannya yang nggak memungkinkan maka sebisa mungkin aku nggak mengijinkan dia bawa kendaraan itu.
&&&
Pagi ini dilewati Aura dengan uring-uringan, pasalnya dia tadi pagi sudah sengaja datang agak siangan, berharap bisa bertemu Ksatria di gudang itu. Tapi, hanya udara kosong yang ia temui di sana. Saat jam pelajaran pun dia sengaja bolak balik ke toilet Cuma untuk mengecek apakah dia bolos atau tidak. Dan lagi-lagi nihil, rencananya nanti waktu istirahat dia akan menunggu di tempat itu sampai Ksatria datang.
Dia masih penasaran dengan coeok itu, dia ingin mengobrol banyak dan menjadi dekat dengannya. Terutama dia ingin mendengarnya bernyanyi dan memainkan gitarnya. Sejak hari di mana dia bertemu dengan Ksatria untuk yang pertama kali, dia sudah jatuh hati pada cowok itu, bahkan sebelum mereka bertatap muka. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya.
“Ra, lo kenapa sih, dari tadi gelisah mulu. Lagi dapet ya?” bisik Mega, saat ini mereka sedang mendengarkan kuliah tentang bagaimana anggota DPR bekerja.
“Nggak kenapa-napa kok Ga,” jawab Aura sambil lalu, matanya tak lepas dari papan tulis yang kini menyajikan diagram pemerintahan pusat.
“Nggak kenapa-napa kok dari tadi lo bolak balik ke toilet sih?” selidik Mega.
“Emang nggak boleh kalau gue bolak balik ke toilet?” balas Aura jengah.
“Nggak juga sih, Cuma aneh aja. Nggak biasanya lo bolak balik ke toilet, ada apaan sih?” tanya Mega lebih lanjut.
Aura menarik napas pelan dan memandang Mega serius. “Gue bolak balik ke toilet Cuma buat mastiin satu hal.” Jawab Aura serius.
“Mastiin apa?” kejar Mega.
“Mastiin dia ada di sana apa nggak!” jawab Aura tegas.
“Dia?? Maksud lo si Ksatri Bergitar itu?” tanya Mega dengan wajah terkejut.
“Siapa lagi?” jawab Aura retoris.
“Ya Ampun Ra, segitunya lo ngefans sama dia, sampai-sampai lo samperin tempat nongkrongnya yang angker itu berkali-kali. Ckck,,,” ujar Mega, seraya menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dia benar-benar heran dengan kelakuan sahabatnya yang mendadak demen banget nyamperin tempat paling berbahaya di SMANSAGA.
“Ya habisnya, gue penasaran banget sama dia.” Jawab Aura sambil lalu.
“Terus lo ketemu sama dia?” tanya Mega ingin tahu.
Aura hanya menggeleng lemah. “Nggak berangkat kali anaknya,” jawabnya lemah.
“Atau nggak, dia lagi nggak bolos, makanya nggak ada di sana,” imbuh Mega.
“Bisa jadi, makanya ntar istirahat gue mau ke sana lagi. Siapa tau dia ada di sana,” ujar Aura dengan senyum mengembang.
Mega hanya menggeleng pelan melihat sahabatnya yang sepertinya sudah terkena sihir si Ksatria Bergitar. “Gue doain semoga lo bisa ketemu deh sama si Ksatria dangdut itu,” ujar Mega dengan senyum geli.
“Enak aja dangdut! Emangnya lo yang suka nyanyi dangdut!?” gerutu Aura pelan.
colour of sky 1
そら の いろ
Pelajaran pertama baru saja dimulai lima belas menit yang lalu, tapi seorang gadis tampak masih berjalan santai dengan setumpuk kertas di tangannya. Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah lagi, setelah selama sebulan yang lalu dia harus mendekam di rumah sakit gara-gara tipus. Setelah melaporkan alasannya tidak hadir di awal semester pada guru BK, ia mendapat tugas membawakan setumpuk kertas pengumuman perekrutan anggota ekskul untuk diserahkan pada ketua OSIS.
Gadis itu berjalan dengan sesekali mendendangkan sebuah lagu dari sebuah girl band yang kini sedang naik daun. Aura. Nama gadis manis itu, mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, apalagi jika mendengar nama lengkapnya. Sesekali Aura memandang ke dalam kelas yang dilewatinya, tak jarang senyuman geli terlintas di bibirnya, kala melihat ekspresi-ekspresi bosan dari para siswa.
Langkahnya terhenti saat ia melintasi sebuah koridor kecil yang menghubungkan gudang bekas dengan koridor tempatnya berdiri sekarang. Sayup-sayup ia mendengar sebuah alunan merdu dari denting gitar. Tidak begitu jelas, tapi ia dapat mengenali musik itu. Bethoven. Klasik namun masih populer hingga saat ini.
Tanpa sadar Aura pun melangkah mendekati sumber suara yang telah mengusik indera pendengarannya. Ia penasaran siapa orang yang tengah bermain gitar di tengah jam pelajaran seperti saat ini. Sesekali ia berbalik ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mengikutinya atau melihatnya sedang mengendap-endap di sekitar gudang bekas. Jantungnya berdebar semakin cepat seiring dengan pupusnya jarak antara tempatnya berdiri tadi dengan entah siapa di sana.
Sekilas rasa takut menghampirinya saat ia sudah hampir sampai di gudang bekas itu. Irama musik yang terdengar dari sebuah gitar akustik itu pun semakin terdengar kuat. Ia merapatkan kertas yang tadi diberikan pada guru BK ke dadanya. Ia dekap dengan keras kertas-kertas itu untuk mengurangi rasa takut yang tiba-tiba saja menyelusup masuk ke sanubarinya.
Perlahan ia tengok pintu gudang yang sedikit terbuka, redupnya pencahayaan di tempat itu mengharuskannya untuk mengerjapkan matanya berulang kali sebelum akhirnya ia dapat melihat dengan jelas ke dalam gudang yang kini sudah tak terpakai lagi. Dengan kesal ia banting pintu gudang itu hingga terbuka lebar. Kosong. Hanya ada setumpuk meja dan kursi yang berdebu dan terdapat sarang laba-laba di sana-sini, tak ia jumpai seorang pun di sana. Rasa takut itu semakin nyata kala irama yang tadi sempat tak terdengar kini mulai menukik tajam.
“Kosong kok... Terus suara itu dari mana?” gumamnya lirih dengan suara sedikit bergetar karena takut. Apa lagi ia ingat kalau ada beberapa cerita horor yang sering menceritakan tentang alunan musik ini. Ia semakin merapatkan tumpukan kertas yang sekarang sudah kusut di sana-sini.
Perlahan dia berjalan melewati gudang menuju halaman terbuka di belakang gudang. Ia ingat kalau tempat itu dulu pernah digunakan oleh sekelompok siswa bermasalah untuk membolos. Tempatnya yang terpencil dan jauh dari keramaian koridor utama membuat mereka leluasa untuk membolos. Tapi, itu sudah cerita setahun yang lalu saat ia duduk di kelas X.
Sekarang belakang gudang itu hanyalah tempat terbuka biasa, jadi dia heran bagaimana mungkin irama itu berasal dari sana. Apakah ada seseorang yang menggunakan tempat terlarang itu lagi? Tapi siapa? Teman-teman angkatan mereka sudah tak mau berurusan dengan tempat itu lagi, angkatan di bawahnya sudah jelas tidak mungkin, mengingat cerita seputar gudang itu hanya diketahui oleh angkatannya dan angakatan di atasnya. Lalu siapa yang memainkan lagu menyeramkan itu?
@@@
Lamunanku melayang pada kejadian pagi tadi. Lagi-lagi aku bertengkar dengan Abang karena hal yang sepele. Siapa yang membonceng dan dibonceng. Sepele memang tapi sangat mengganggku eksistensiku. Walau aku tau alasannya melarangku mengendarai motor adalah benar, tapi aku kan juga pengen sekali-kali merasakan melaju di atas motor yang kukendarai sendiri. Terkadang aku lelah dengan perlakuan Abang padaku, ia terlalu posesif padaku, segala tingkah lakuku tak luput dari pantauannya.
Menyenangkan sih, tapi kalau sudah seperti tadi pagi, aku ya kesal juga. Tapi walau begitu aku sayang banget sama Abang, hanya kepadanya lah aku sering berkeluh kesah tentang segala sesuatu yang menurutku benar. Ia terkadang menjadi pendengar yang baik dan seorang motivator handal, sehingga aku tak merasa bosan untuk bercerita padanya. Walau tak jarang kami berbeda pendapat tentang suatu hal.
Hari ini, aku membolos-lagi. Aku sedang tak ingin berada di kelas dengan guru yang setiap saat menyemburkan hujan lokal saking semangatnya ia berecerita. Sejarah, adalah pelajaran paling mebosankan yang pernah aku kenal. Jadi, daripada aku mati bosan di kelas lebih baik aku cabut saja ke tempat yang menjadi favoritku, bahkan sejak aku pertama kali masuk ke sekolah ini. tempat terbuka di belakang sebuah gudang bekas.
Awalnya aku tak sengaja menemukan tempat menyenangkan ini, suasananya yang syahdu membuatku dapat berpikir lebih jernih, dan sejenak melepaskan kebisingan yang menggangguku. Hari ini aku sedang tak ingin berdendang, jadi aku hanya memainkan sebuah instrumen klasik dari pianis dunia. Damai rasanya ketika mendengar alunan musiknya. Membuatku tenang dan nyaman, sebuah terapi yang sering aku lakukan jika sudah merasa jenuh dengan segala sesuatu di sekitarku.
Tapi, kedamaianku itu terusik dengan bunyi pintu gudang yang terhempas kasar, aku rasa ada seseorang yang telah memaksanya terbuka. Ku hentikan sejenak permaianan gitarku, kutajamkan pendengaran untuk mengetahui apakah orang tersebut akan menghampiriku atau tidak. Setelah beberapa detik tak terdengar suara langkah kaki, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan kenbali irama yang tadi terpaksa berhenti karena ulah orang yang kurang kerjaan. Baru beberapa detik aku melanjutkan instrumen itu, lagi-lagi aku dikejutkan oleh teriakan seseorang yang sangat dekat denganku.
Sontak aku menoleh padanya dan menghentikan permainan gitarku.
&&&
“Kyaaaa....!!” teriak Aura ketika merasakan sesuatu sedang melintasi kakinya. Ternyata seekor tikus berwarna abu-abu, sontak ia mengambil sapu ijuk bekas tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan geram ia pun memukul tikus tak berdosa itu hingga sekarat. Ia memang tak suka dengan semua jenis hewan pengerat, apalagi tikus.
“Huh, dasar pengerat! Mampus lo sekarang, makanya jangan macen-macem sama Aura, tau rasa kan sekarang.” Ujarnya dengan penuh kemenangan kepada bangkai tikus yang kini tergeletak tak jauh dari pintu gudang.
Setelah menghabisi nyawa seekor tikus tak berdosa, ia pun mulai memungut kertas-kertas yang bertebaran akibat perbuatannya barusan. Setelah terkumpul semua Aura pun memutuskan untuk meninggalkan gudang bekas itu. Menurutnya dekat-dekat dengan tempat itu hanya akan membuatnya sial. Ia pun mengabaikan tujuan utamanya datang ke sana. Walau rasa penasaran masih saja ada di hatinya, namun untuk saat ini lebih baik ia pergi secepatnya dari gudang itu, sebelum kesialannya bertambah banyak. Dengan sedikit berlari kecil ia pun meninggalkan tempat menyeramkan tersebut.
Tanpa Aura sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasi lekat tindak tanduknya, mulai dari dia mengeksekusi hewan pengerat sampai ia terburu-buru meninggalkan TKP. Sebuah senyum datar tersungging dari bibir pengintai tersebut.
“Dasar cewek aneh,” gumamnya lirih sebelum meninggalkan tempatnya bersemedi, tak lupa ia menenteng gitar akustik kesayangannya.
###
“Lo tau nggak Bang, gue tadi pagi ketemu cewek aneh,” ujar Ksatria-adikku satu-satunya-dengan antusias. Kami memang sering melewatkan waktu istirahat pertama dengan bercengkerama bersama seperti ini.
“Aneh?” tanyaku tak mengerti, aku mencoba untuk terlihat biasa saja walau aku merasa dia sedikit berbeda kali ini. sebelumnya dia tak begitu antusias kalau sudah berbicara soal cewek.
“Iya Bang, udah aneh sadis lagi,” ujarnya dengan mengunyah somay dengan ganas, ku rasa dia benar-benar kelaparan.
“Maksudnya?” tanyaku semakin tak mengerti.
“Gini Bang, tadi pagi nih ya waktu gue lagi asyik main-main gitar, tiba-tiba aja ada yang ngejerit gitu Bang, waktu gue lihat tuh cewek lagi ngomel-ngomel ama bangkai tikus Bang. Aneh banget kan? Gue rasa tuh tikus mati juga gara-gara dipukulin ama dia. Sadis banget ya Bang,” ceritanya berapi-api.
Aku menyeruput jus jeruk sebelum menanggapi ceritanya. “Jadi, lo tadi pagi bolos lagi?” tanyaku langsung, kupandangi wajahnya yang berubah merah, tanda dia telah tertangkao basah melakukan kesalahan.
“Cuma sekali Bang. Nggak usah pake’ lagi kale,” ujarnya mengelak.
Aku tersenyum kecil mendengarnya ngeles. “Minggu lalu lo juga bilang gitu waktu ketauan bolos. Nggak kreatif amat sih lo buat alesan.” Ujarku semakin memojokkannya. Terus terang aku nggak suka ngeliat dia sering bolos seperti itu, walau dulu aku juga sering bolos seperti dia. Tapi aku nggak mau kalau dia sampai dicap jelek oleh guru-guru karena bad rocordku. Aku mau dia tunjukin ke semua orang kalau dia bisa lebih baik dari aku. Tapi kaya’nya jalan menuju ke sana nggak bakal mudah.
“Yaelah Bang, kaya’ nggak tau aja. Gue bosen tau nggak Bang sama sejarah. Buat apa coba kita repot-repot belajar tentang masa lalu, lebih baik kan kita belajar tertang masa depan. Kebanyakan belajar dari masa lalu nggak bisa bikin kita cepet maju tau.” Ujarnya beralasan. Ksatria memang seperti itu, kalau sudah tak suka dengan sesuatu dia pasti akan mencari jalan untuk tidak menghadapi sesuatu tersebut.
“Ya agar kita nggak ngulangin kesalahan yang udah dilakuin sama orang-orang dulu lah Ksat, itulah gunanya kita belajar sejarah,” jawabku bijak.
“Omong kosong, buktinya udah tau sejarah ngasih tau kita kalau pemerintah di zaman dulu itu banyak yang korupsi. Kalau emang gunanya sejarah kaya’ yang tadi Abang bilang, harusnya pemerintah sekarang udah nggak banyak yang korupsi lagi donk. Tapi apa kenyataannya Bang? Korupsi malah makin subur, apa itu yang namanya belajar dari sejarah?” argumennya kali ini sepertinya dilandasi dari kekesalan pribadi.
“Tapi coba deh lo pikir lagi, sejarah juga mencatat bahaya dari nuklir yang udah bikin Hiroshima ama Nagasaki ancur. Sekarang lo liat, apa ada yang gunain nuklir buat senjata perang? Nggak ada kan? Baru denger gosip suatu negara ngembangin nuklir aja pemerintah dunia udah heboh mau ngrecokin tuh negara. Padahal mereka belum tau tuh nuklir mau dibuat sumber listrik apa senjata pemusnah masal. Walau emang rada ekstrim, tapi itu tandanya mereka nggak mau kejadian di dua kota Jepang itu keulang lagi. Lo boleh berpendapat nggak suka sama sesuatu, tapi coba deh sebelum lo berpendapat lo liat dulu masalahnya dari berbagai sudut, bukan Cuma ngandelin perasaan pribadi aja. Bisa-bisa lo malah dicibir orang kalau gitu, ngomong boleh, tapi jangan omong kosong. Harus ada isinya donk,” ujarku panjang lebar. Kulihat dia hanya merengut tanda tak suka dengan pendapatku.
“Yaaah Bang, lo mah gitu. Sukanya matiin pendapat orang,” gerutunya.
“Bukannya matiin pendapat, tapi ngelurusin cara pikir lo yang pendek itu,” jawabku disertai dengan satu kedipan mata padanya.
“Terserah lo aja deh Bang, gue mau balik ke kelas aja. Gerah gue lama-lama sama lo. Tau nggak Bang, lo itu lebih cerewet ketimbang guru sejarah gue.” Ujarnya kesal, seraya pergi begitu saja tanpa membayar.
“Heh, makanan lo siapa yang bayar!!?” teriakku padanya yang hanya dijawabnya dengan lambaian tangan dari kejauhan.
“Dasar adik ngeselin.” Omelku dengan senyum kecil.
&&&
“Lama banget sih lo Ra, dari mana aja sih?!” tanya Mega, teman sebangku Aura sejak kelas X.
Aura tesenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Mega. “Gue tadi habis dikasih mandat dari guru BK buat ngasih lembaran perekrutan anggota ekskul gitu buat si Reksa, jadi lama.” Jawab Aura seraya mengatur napasnya yang sedikit tidak teratur.
“Terus, kenapa lo ngos-ngosan gitu? Kelasnya si Reksa kan nggak jauh dari ruang BK, kok lo bisa sampe ngos-ngosan gitu sih, kaya’ abis dikejar hansip aja lo,” selidik Mega.
“Iya sih, tapi lo tau kan gudang yang ada di deket ruang OSIS itu?” ujar Aura memulai ceritanya, ia tatap Mega dengan pandangan serius.
“Gudang yang jadi masalah tahun kemaren itu?” tanya Mega meminta ketegasan.
“Iya gudang yang itu. Lo tau nggak, tadi waktu gue lewat di deket sana, gue denger ada suara gitar gitu. Lo tau lagunya Bethoven yang paling sering didenger tapi pada nggak tau judulnya?” ujar Aura dengan mimik yang lebih serius dari yang sebelumnya.
“Ya gue tau, sampe sekarang juga gue nggak tau tuh melodi apaan namanya. Terus apa hubungannya tuh melodi ama cerita lo?” kejar Mega.
“Nah, tadi pagi gue denger ada yang mainin tuh melodi pake gitar akustik Ga. Dan lo tau nggak suara itu gue denger dari arah gudang masalah itu.” Jawab Aura berapi-api.
“Apa lo bilang? Ada yang main gitar di sana!? Wah, lo bercanda Ra, lo tau kan tuh gudang udah nggak ke pake’ lagi sejak taun lalu. Nggak mungkin banget ada yang main gitar di sana. Gue yakin lo pasti becanda.” Ujar Mega dengan gelengan kepalanya. Raut ketakutan membayang di wajahnya.
“Gue serius Ga. Gue yakin banget kalo tadi pagi tuh ada yang main gitar di sana.” Jawab Aura tegas.
“Terus lo ketemu sama orangnya?” kejar Mega.
Aura hanya menggeleng pelan. “Waktu gue liat, di gudang nggak ada orang, malah gue ketemu hewan yang paling menjijikkan di muka bumi ini. Tikus! Gara-gara tuh curut gue jadi nggak bisa ketemu sama orangnya.” Omel Aura kesel.
“Horor banget sih Ra cerita lo. Kalo emang di sana nggak ada orang, gimana coba bisa ada suara gitar? Iih, mendingan lo jauh-jauh deh dari sana. Takutnya tar lo kesambet lagi sama penunggu gudang itu.” Saran Mega dengan bergidik.
“Sembarangan lo bicara. Hati-hati kalo ngomong, tar bisa kejadian beneran gimana? Amit-amit deh,” tanggap Aura seraya mengetukkan tangannya berkali-kali di keningnya. “Eh, Ga tapi gue penasaran banget sama yang main gitar tadi pagi. Sumpah ya, damai aja gitu waktu gue denger dentingannya.” Lanjut Aura seraya menerawang.
“Wah Ra, lo mesti cepet-cepet mandi kembang deh, biar ilang tuh yang nempel di badan lo. Kaya’nya lo itu udah bener-bener kesambet deh.” Ujar Mega dengan tampang nggak banget.
“Apaan sih lo Ga,” elak Aura dengan sedikit mendorong bahu Mega sebelum akhirnya mereka tertawa bersama.
@@@
Akhir-akhir ini cuaca sangat nggak bersahabat, kalau siang panasnya naudzubillah. Udah kaya’ di penggorengan aja. Gerah banget rasanya, apalagi kalau harus ngelewatin panas neraka ini dengan duduk bengong di kelas sambil dengerin guru ngoceh tentang berapa kecepatan apel jatuh. Penting nggak sih ngitungin hal begituan? Mendingan juga ngitungin berapa keuntungan yang didapat para penimbun BBM.
Satu jam lagi aku duduk di sini, yakin deh pulang-pulang aku udah kaya’ ikan panggang, mana kipas angin satu-satunya di kelas pake’ mati segala lagi, lengkap sudah penderitaan. Aku lihat udah ada beberapa temenku yang banjir keringat saking panasnya nih udara, guru di depan juga udah mati gaya ngajar sambil kipas-kipas, antara kepanasan dan jaga wibawa.
Daripada aku mateng di sini, lebih baik aku cepat-cepat keluar. Segera ku sambar gitar kesayangnku, dan berdiri meminta izin pada guru yang kini sedang menulis sederet rumus dengan sesekali menyeka keringat yang mengucur di pelipisnya.
“Ehm, permisi Pak,” ujarku setelah berdiri tak jauh dari tempatnya menulis rumus-rumus.
Pak Togar menghentikan sebentar aktivitasnya, beliau memandangku dengan kening berkerut. “Ya, ada apa Ksat?” tanyanya menyelidik.
“Saya permisi sebentar Pak, mau mengantarkan gitar ke Abang saya. Katanya tadi dia ada pelajaran seni musik, jadi dia mau pinjam gitar saya Pak,” kataku beralasan. Lagi-lagi aku menggunakan nama Abangku untuk mendapatkan izin. Kalau nggak begitu mustahil guru-guru di sini akan memberiku izin. Ini semua gara-gara Abangku yang seenaknya sendiri nyerahin tanggung jawab atasku pada guru-guru. Bikin nggak nyaman aja.
“Oh, gitu? Baiklah kamu boleh pergi, tapi ingat jangan lama-lama,” ujar Pak Togar singkat sebelum melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat tertunda karena ulahku.
“Terima kasih Pak,” ujarku ringan. Dengan senyum lebar aku melangkah menuju ke tempat rahasiaku. Ku hirup udara kebebasan dengan rakus. Aah, udara terbuka memang yang terbaik.
Aku melangkah ringan dengan sesekali bersiul lirih, ku pandangi siswa-siswa yang kebosanan di balik jendela sepanjang koridor menuju ruang rahasiaku. Koridor lumayan sepi siang ini. Sepertinya banyak orang yang tak ingin berada di luar pada cuaca sepanas ini. Lima menit kemudian aku sudah duduk bersandar pada tembok di belakangku, pelan kuhirup udara siang yang lumayan sejuk akibat dari rimbunnya pohon angsana yang tumbuh di belakang bangunan sekolah.
Perlahan ku petik pelan senar gitar, mencoba mencari nada yang ku inginkan. Sembari mencari nada pikiranku melayang ke suatu masa di mana masih ada sosok ayah di sana. Aku ingat suatu sore ayah mengajariku yang pada waktu itu baru berumur 4 tahun tentang beberapa chord gitar yang menurutnya mudah. Ya, aku sudah menggemari alat musik petik ini sejak kecil. Bagiku memetik senar gitar serasa memetik masa depanku.
Ayahlah yang mengenalkanku dengan alat musik ini, gitar ini pun warisan yang beliau tinggalkan padaku. Makanya aku sayang banget sama gitar tua ini. Itulah sebabnya aku tidak suka jika ada orang lain yang memainkan alat musik ini selain abangku. Sekarang hanya lewat petikan gitar inilah aku dapat mengenang ayahku.
Ayah meninggalkan ku pada saat usiaku baru menginjak umur 5 tahun, beliau meninggal karena sebuah kecelakaan maut. Aku tak ingat bagaimana persisnya, hanya selama ini abang bercerita padaku, kalau waktu itu hujan deras dan berpetir, ban mobil ayah slip sehingga menabrak bahu jalan. Beliau meninggal setelah sempat koma selama beberapa jam.
Ayah meninggalkanku dengan sedikit kenangan tentangnya. Aku menarik napas panjang, aku rindu pada ayah, sosoknya yang tersenyum penuh kasih membuatku selalu merasa menjadi anak yang paling beruntung di dunia. Dengan sedikit bergetar ku petik gitar tua peninggalan ayah, memainkan intro sebuah lagu yang bercerita tentang kenangan bersama seorang ayah.
Lirih ku nyanyikan bait demi bait lagu syahdu itu, ku pejamkan mata agar aku dapat lebih merasuk ke dalam setiap liriknya. Hingga tak terasa satu persatu bulir air mata luruh membasahi kedua pipiku. Suaraku pun sudah mulai bergetar, menahan segala gejolak yang kurasakan. Mengingat segala kenangan bersamanya adalah suatu momen di mana aku bisa berubah melankolis seperti saat ini. Ayah, aku rindu pada mu. Apakah kau baik-baik saja di sana? Semoga kau bahagia di sisi-Nya.
Pelajaran pertama baru saja dimulai lima belas menit yang lalu, tapi seorang gadis tampak masih berjalan santai dengan setumpuk kertas di tangannya. Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah lagi, setelah selama sebulan yang lalu dia harus mendekam di rumah sakit gara-gara tipus. Setelah melaporkan alasannya tidak hadir di awal semester pada guru BK, ia mendapat tugas membawakan setumpuk kertas pengumuman perekrutan anggota ekskul untuk diserahkan pada ketua OSIS.
Gadis itu berjalan dengan sesekali mendendangkan sebuah lagu dari sebuah girl band yang kini sedang naik daun. Aura. Nama gadis manis itu, mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, apalagi jika mendengar nama lengkapnya. Sesekali Aura memandang ke dalam kelas yang dilewatinya, tak jarang senyuman geli terlintas di bibirnya, kala melihat ekspresi-ekspresi bosan dari para siswa.
Langkahnya terhenti saat ia melintasi sebuah koridor kecil yang menghubungkan gudang bekas dengan koridor tempatnya berdiri sekarang. Sayup-sayup ia mendengar sebuah alunan merdu dari denting gitar. Tidak begitu jelas, tapi ia dapat mengenali musik itu. Bethoven. Klasik namun masih populer hingga saat ini.
Tanpa sadar Aura pun melangkah mendekati sumber suara yang telah mengusik indera pendengarannya. Ia penasaran siapa orang yang tengah bermain gitar di tengah jam pelajaran seperti saat ini. Sesekali ia berbalik ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mengikutinya atau melihatnya sedang mengendap-endap di sekitar gudang bekas. Jantungnya berdebar semakin cepat seiring dengan pupusnya jarak antara tempatnya berdiri tadi dengan entah siapa di sana.
Sekilas rasa takut menghampirinya saat ia sudah hampir sampai di gudang bekas itu. Irama musik yang terdengar dari sebuah gitar akustik itu pun semakin terdengar kuat. Ia merapatkan kertas yang tadi diberikan pada guru BK ke dadanya. Ia dekap dengan keras kertas-kertas itu untuk mengurangi rasa takut yang tiba-tiba saja menyelusup masuk ke sanubarinya.
Perlahan ia tengok pintu gudang yang sedikit terbuka, redupnya pencahayaan di tempat itu mengharuskannya untuk mengerjapkan matanya berulang kali sebelum akhirnya ia dapat melihat dengan jelas ke dalam gudang yang kini sudah tak terpakai lagi. Dengan kesal ia banting pintu gudang itu hingga terbuka lebar. Kosong. Hanya ada setumpuk meja dan kursi yang berdebu dan terdapat sarang laba-laba di sana-sini, tak ia jumpai seorang pun di sana. Rasa takut itu semakin nyata kala irama yang tadi sempat tak terdengar kini mulai menukik tajam.
“Kosong kok... Terus suara itu dari mana?” gumamnya lirih dengan suara sedikit bergetar karena takut. Apa lagi ia ingat kalau ada beberapa cerita horor yang sering menceritakan tentang alunan musik ini. Ia semakin merapatkan tumpukan kertas yang sekarang sudah kusut di sana-sini.
Perlahan dia berjalan melewati gudang menuju halaman terbuka di belakang gudang. Ia ingat kalau tempat itu dulu pernah digunakan oleh sekelompok siswa bermasalah untuk membolos. Tempatnya yang terpencil dan jauh dari keramaian koridor utama membuat mereka leluasa untuk membolos. Tapi, itu sudah cerita setahun yang lalu saat ia duduk di kelas X.
Sekarang belakang gudang itu hanyalah tempat terbuka biasa, jadi dia heran bagaimana mungkin irama itu berasal dari sana. Apakah ada seseorang yang menggunakan tempat terlarang itu lagi? Tapi siapa? Teman-teman angkatan mereka sudah tak mau berurusan dengan tempat itu lagi, angkatan di bawahnya sudah jelas tidak mungkin, mengingat cerita seputar gudang itu hanya diketahui oleh angkatannya dan angakatan di atasnya. Lalu siapa yang memainkan lagu menyeramkan itu?
@@@
Lamunanku melayang pada kejadian pagi tadi. Lagi-lagi aku bertengkar dengan Abang karena hal yang sepele. Siapa yang membonceng dan dibonceng. Sepele memang tapi sangat mengganggku eksistensiku. Walau aku tau alasannya melarangku mengendarai motor adalah benar, tapi aku kan juga pengen sekali-kali merasakan melaju di atas motor yang kukendarai sendiri. Terkadang aku lelah dengan perlakuan Abang padaku, ia terlalu posesif padaku, segala tingkah lakuku tak luput dari pantauannya.
Menyenangkan sih, tapi kalau sudah seperti tadi pagi, aku ya kesal juga. Tapi walau begitu aku sayang banget sama Abang, hanya kepadanya lah aku sering berkeluh kesah tentang segala sesuatu yang menurutku benar. Ia terkadang menjadi pendengar yang baik dan seorang motivator handal, sehingga aku tak merasa bosan untuk bercerita padanya. Walau tak jarang kami berbeda pendapat tentang suatu hal.
Hari ini, aku membolos-lagi. Aku sedang tak ingin berada di kelas dengan guru yang setiap saat menyemburkan hujan lokal saking semangatnya ia berecerita. Sejarah, adalah pelajaran paling mebosankan yang pernah aku kenal. Jadi, daripada aku mati bosan di kelas lebih baik aku cabut saja ke tempat yang menjadi favoritku, bahkan sejak aku pertama kali masuk ke sekolah ini. tempat terbuka di belakang sebuah gudang bekas.
Awalnya aku tak sengaja menemukan tempat menyenangkan ini, suasananya yang syahdu membuatku dapat berpikir lebih jernih, dan sejenak melepaskan kebisingan yang menggangguku. Hari ini aku sedang tak ingin berdendang, jadi aku hanya memainkan sebuah instrumen klasik dari pianis dunia. Damai rasanya ketika mendengar alunan musiknya. Membuatku tenang dan nyaman, sebuah terapi yang sering aku lakukan jika sudah merasa jenuh dengan segala sesuatu di sekitarku.
Tapi, kedamaianku itu terusik dengan bunyi pintu gudang yang terhempas kasar, aku rasa ada seseorang yang telah memaksanya terbuka. Ku hentikan sejenak permaianan gitarku, kutajamkan pendengaran untuk mengetahui apakah orang tersebut akan menghampiriku atau tidak. Setelah beberapa detik tak terdengar suara langkah kaki, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan kenbali irama yang tadi terpaksa berhenti karena ulah orang yang kurang kerjaan. Baru beberapa detik aku melanjutkan instrumen itu, lagi-lagi aku dikejutkan oleh teriakan seseorang yang sangat dekat denganku.
Sontak aku menoleh padanya dan menghentikan permainan gitarku.
&&&
“Kyaaaa....!!” teriak Aura ketika merasakan sesuatu sedang melintasi kakinya. Ternyata seekor tikus berwarna abu-abu, sontak ia mengambil sapu ijuk bekas tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan geram ia pun memukul tikus tak berdosa itu hingga sekarat. Ia memang tak suka dengan semua jenis hewan pengerat, apalagi tikus.
“Huh, dasar pengerat! Mampus lo sekarang, makanya jangan macen-macem sama Aura, tau rasa kan sekarang.” Ujarnya dengan penuh kemenangan kepada bangkai tikus yang kini tergeletak tak jauh dari pintu gudang.
Setelah menghabisi nyawa seekor tikus tak berdosa, ia pun mulai memungut kertas-kertas yang bertebaran akibat perbuatannya barusan. Setelah terkumpul semua Aura pun memutuskan untuk meninggalkan gudang bekas itu. Menurutnya dekat-dekat dengan tempat itu hanya akan membuatnya sial. Ia pun mengabaikan tujuan utamanya datang ke sana. Walau rasa penasaran masih saja ada di hatinya, namun untuk saat ini lebih baik ia pergi secepatnya dari gudang itu, sebelum kesialannya bertambah banyak. Dengan sedikit berlari kecil ia pun meninggalkan tempat menyeramkan tersebut.
Tanpa Aura sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasi lekat tindak tanduknya, mulai dari dia mengeksekusi hewan pengerat sampai ia terburu-buru meninggalkan TKP. Sebuah senyum datar tersungging dari bibir pengintai tersebut.
“Dasar cewek aneh,” gumamnya lirih sebelum meninggalkan tempatnya bersemedi, tak lupa ia menenteng gitar akustik kesayangannya.
###
“Lo tau nggak Bang, gue tadi pagi ketemu cewek aneh,” ujar Ksatria-adikku satu-satunya-dengan antusias. Kami memang sering melewatkan waktu istirahat pertama dengan bercengkerama bersama seperti ini.
“Aneh?” tanyaku tak mengerti, aku mencoba untuk terlihat biasa saja walau aku merasa dia sedikit berbeda kali ini. sebelumnya dia tak begitu antusias kalau sudah berbicara soal cewek.
“Iya Bang, udah aneh sadis lagi,” ujarnya dengan mengunyah somay dengan ganas, ku rasa dia benar-benar kelaparan.
“Maksudnya?” tanyaku semakin tak mengerti.
“Gini Bang, tadi pagi nih ya waktu gue lagi asyik main-main gitar, tiba-tiba aja ada yang ngejerit gitu Bang, waktu gue lihat tuh cewek lagi ngomel-ngomel ama bangkai tikus Bang. Aneh banget kan? Gue rasa tuh tikus mati juga gara-gara dipukulin ama dia. Sadis banget ya Bang,” ceritanya berapi-api.
Aku menyeruput jus jeruk sebelum menanggapi ceritanya. “Jadi, lo tadi pagi bolos lagi?” tanyaku langsung, kupandangi wajahnya yang berubah merah, tanda dia telah tertangkao basah melakukan kesalahan.
“Cuma sekali Bang. Nggak usah pake’ lagi kale,” ujarnya mengelak.
Aku tersenyum kecil mendengarnya ngeles. “Minggu lalu lo juga bilang gitu waktu ketauan bolos. Nggak kreatif amat sih lo buat alesan.” Ujarku semakin memojokkannya. Terus terang aku nggak suka ngeliat dia sering bolos seperti itu, walau dulu aku juga sering bolos seperti dia. Tapi aku nggak mau kalau dia sampai dicap jelek oleh guru-guru karena bad rocordku. Aku mau dia tunjukin ke semua orang kalau dia bisa lebih baik dari aku. Tapi kaya’nya jalan menuju ke sana nggak bakal mudah.
“Yaelah Bang, kaya’ nggak tau aja. Gue bosen tau nggak Bang sama sejarah. Buat apa coba kita repot-repot belajar tentang masa lalu, lebih baik kan kita belajar tertang masa depan. Kebanyakan belajar dari masa lalu nggak bisa bikin kita cepet maju tau.” Ujarnya beralasan. Ksatria memang seperti itu, kalau sudah tak suka dengan sesuatu dia pasti akan mencari jalan untuk tidak menghadapi sesuatu tersebut.
“Ya agar kita nggak ngulangin kesalahan yang udah dilakuin sama orang-orang dulu lah Ksat, itulah gunanya kita belajar sejarah,” jawabku bijak.
“Omong kosong, buktinya udah tau sejarah ngasih tau kita kalau pemerintah di zaman dulu itu banyak yang korupsi. Kalau emang gunanya sejarah kaya’ yang tadi Abang bilang, harusnya pemerintah sekarang udah nggak banyak yang korupsi lagi donk. Tapi apa kenyataannya Bang? Korupsi malah makin subur, apa itu yang namanya belajar dari sejarah?” argumennya kali ini sepertinya dilandasi dari kekesalan pribadi.
“Tapi coba deh lo pikir lagi, sejarah juga mencatat bahaya dari nuklir yang udah bikin Hiroshima ama Nagasaki ancur. Sekarang lo liat, apa ada yang gunain nuklir buat senjata perang? Nggak ada kan? Baru denger gosip suatu negara ngembangin nuklir aja pemerintah dunia udah heboh mau ngrecokin tuh negara. Padahal mereka belum tau tuh nuklir mau dibuat sumber listrik apa senjata pemusnah masal. Walau emang rada ekstrim, tapi itu tandanya mereka nggak mau kejadian di dua kota Jepang itu keulang lagi. Lo boleh berpendapat nggak suka sama sesuatu, tapi coba deh sebelum lo berpendapat lo liat dulu masalahnya dari berbagai sudut, bukan Cuma ngandelin perasaan pribadi aja. Bisa-bisa lo malah dicibir orang kalau gitu, ngomong boleh, tapi jangan omong kosong. Harus ada isinya donk,” ujarku panjang lebar. Kulihat dia hanya merengut tanda tak suka dengan pendapatku.
“Yaaah Bang, lo mah gitu. Sukanya matiin pendapat orang,” gerutunya.
“Bukannya matiin pendapat, tapi ngelurusin cara pikir lo yang pendek itu,” jawabku disertai dengan satu kedipan mata padanya.
“Terserah lo aja deh Bang, gue mau balik ke kelas aja. Gerah gue lama-lama sama lo. Tau nggak Bang, lo itu lebih cerewet ketimbang guru sejarah gue.” Ujarnya kesal, seraya pergi begitu saja tanpa membayar.
“Heh, makanan lo siapa yang bayar!!?” teriakku padanya yang hanya dijawabnya dengan lambaian tangan dari kejauhan.
“Dasar adik ngeselin.” Omelku dengan senyum kecil.
&&&
“Lama banget sih lo Ra, dari mana aja sih?!” tanya Mega, teman sebangku Aura sejak kelas X.
Aura tesenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Mega. “Gue tadi habis dikasih mandat dari guru BK buat ngasih lembaran perekrutan anggota ekskul gitu buat si Reksa, jadi lama.” Jawab Aura seraya mengatur napasnya yang sedikit tidak teratur.
“Terus, kenapa lo ngos-ngosan gitu? Kelasnya si Reksa kan nggak jauh dari ruang BK, kok lo bisa sampe ngos-ngosan gitu sih, kaya’ abis dikejar hansip aja lo,” selidik Mega.
“Iya sih, tapi lo tau kan gudang yang ada di deket ruang OSIS itu?” ujar Aura memulai ceritanya, ia tatap Mega dengan pandangan serius.
“Gudang yang jadi masalah tahun kemaren itu?” tanya Mega meminta ketegasan.
“Iya gudang yang itu. Lo tau nggak, tadi waktu gue lewat di deket sana, gue denger ada suara gitar gitu. Lo tau lagunya Bethoven yang paling sering didenger tapi pada nggak tau judulnya?” ujar Aura dengan mimik yang lebih serius dari yang sebelumnya.
“Ya gue tau, sampe sekarang juga gue nggak tau tuh melodi apaan namanya. Terus apa hubungannya tuh melodi ama cerita lo?” kejar Mega.
“Nah, tadi pagi gue denger ada yang mainin tuh melodi pake gitar akustik Ga. Dan lo tau nggak suara itu gue denger dari arah gudang masalah itu.” Jawab Aura berapi-api.
“Apa lo bilang? Ada yang main gitar di sana!? Wah, lo bercanda Ra, lo tau kan tuh gudang udah nggak ke pake’ lagi sejak taun lalu. Nggak mungkin banget ada yang main gitar di sana. Gue yakin lo pasti becanda.” Ujar Mega dengan gelengan kepalanya. Raut ketakutan membayang di wajahnya.
“Gue serius Ga. Gue yakin banget kalo tadi pagi tuh ada yang main gitar di sana.” Jawab Aura tegas.
“Terus lo ketemu sama orangnya?” kejar Mega.
Aura hanya menggeleng pelan. “Waktu gue liat, di gudang nggak ada orang, malah gue ketemu hewan yang paling menjijikkan di muka bumi ini. Tikus! Gara-gara tuh curut gue jadi nggak bisa ketemu sama orangnya.” Omel Aura kesel.
“Horor banget sih Ra cerita lo. Kalo emang di sana nggak ada orang, gimana coba bisa ada suara gitar? Iih, mendingan lo jauh-jauh deh dari sana. Takutnya tar lo kesambet lagi sama penunggu gudang itu.” Saran Mega dengan bergidik.
“Sembarangan lo bicara. Hati-hati kalo ngomong, tar bisa kejadian beneran gimana? Amit-amit deh,” tanggap Aura seraya mengetukkan tangannya berkali-kali di keningnya. “Eh, Ga tapi gue penasaran banget sama yang main gitar tadi pagi. Sumpah ya, damai aja gitu waktu gue denger dentingannya.” Lanjut Aura seraya menerawang.
“Wah Ra, lo mesti cepet-cepet mandi kembang deh, biar ilang tuh yang nempel di badan lo. Kaya’nya lo itu udah bener-bener kesambet deh.” Ujar Mega dengan tampang nggak banget.
“Apaan sih lo Ga,” elak Aura dengan sedikit mendorong bahu Mega sebelum akhirnya mereka tertawa bersama.
@@@
Akhir-akhir ini cuaca sangat nggak bersahabat, kalau siang panasnya naudzubillah. Udah kaya’ di penggorengan aja. Gerah banget rasanya, apalagi kalau harus ngelewatin panas neraka ini dengan duduk bengong di kelas sambil dengerin guru ngoceh tentang berapa kecepatan apel jatuh. Penting nggak sih ngitungin hal begituan? Mendingan juga ngitungin berapa keuntungan yang didapat para penimbun BBM.
Satu jam lagi aku duduk di sini, yakin deh pulang-pulang aku udah kaya’ ikan panggang, mana kipas angin satu-satunya di kelas pake’ mati segala lagi, lengkap sudah penderitaan. Aku lihat udah ada beberapa temenku yang banjir keringat saking panasnya nih udara, guru di depan juga udah mati gaya ngajar sambil kipas-kipas, antara kepanasan dan jaga wibawa.
Daripada aku mateng di sini, lebih baik aku cepat-cepat keluar. Segera ku sambar gitar kesayangnku, dan berdiri meminta izin pada guru yang kini sedang menulis sederet rumus dengan sesekali menyeka keringat yang mengucur di pelipisnya.
“Ehm, permisi Pak,” ujarku setelah berdiri tak jauh dari tempatnya menulis rumus-rumus.
Pak Togar menghentikan sebentar aktivitasnya, beliau memandangku dengan kening berkerut. “Ya, ada apa Ksat?” tanyanya menyelidik.
“Saya permisi sebentar Pak, mau mengantarkan gitar ke Abang saya. Katanya tadi dia ada pelajaran seni musik, jadi dia mau pinjam gitar saya Pak,” kataku beralasan. Lagi-lagi aku menggunakan nama Abangku untuk mendapatkan izin. Kalau nggak begitu mustahil guru-guru di sini akan memberiku izin. Ini semua gara-gara Abangku yang seenaknya sendiri nyerahin tanggung jawab atasku pada guru-guru. Bikin nggak nyaman aja.
“Oh, gitu? Baiklah kamu boleh pergi, tapi ingat jangan lama-lama,” ujar Pak Togar singkat sebelum melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat tertunda karena ulahku.
“Terima kasih Pak,” ujarku ringan. Dengan senyum lebar aku melangkah menuju ke tempat rahasiaku. Ku hirup udara kebebasan dengan rakus. Aah, udara terbuka memang yang terbaik.
Aku melangkah ringan dengan sesekali bersiul lirih, ku pandangi siswa-siswa yang kebosanan di balik jendela sepanjang koridor menuju ruang rahasiaku. Koridor lumayan sepi siang ini. Sepertinya banyak orang yang tak ingin berada di luar pada cuaca sepanas ini. Lima menit kemudian aku sudah duduk bersandar pada tembok di belakangku, pelan kuhirup udara siang yang lumayan sejuk akibat dari rimbunnya pohon angsana yang tumbuh di belakang bangunan sekolah.
Perlahan ku petik pelan senar gitar, mencoba mencari nada yang ku inginkan. Sembari mencari nada pikiranku melayang ke suatu masa di mana masih ada sosok ayah di sana. Aku ingat suatu sore ayah mengajariku yang pada waktu itu baru berumur 4 tahun tentang beberapa chord gitar yang menurutnya mudah. Ya, aku sudah menggemari alat musik petik ini sejak kecil. Bagiku memetik senar gitar serasa memetik masa depanku.
Ayahlah yang mengenalkanku dengan alat musik ini, gitar ini pun warisan yang beliau tinggalkan padaku. Makanya aku sayang banget sama gitar tua ini. Itulah sebabnya aku tidak suka jika ada orang lain yang memainkan alat musik ini selain abangku. Sekarang hanya lewat petikan gitar inilah aku dapat mengenang ayahku.
Ayah meninggalkan ku pada saat usiaku baru menginjak umur 5 tahun, beliau meninggal karena sebuah kecelakaan maut. Aku tak ingat bagaimana persisnya, hanya selama ini abang bercerita padaku, kalau waktu itu hujan deras dan berpetir, ban mobil ayah slip sehingga menabrak bahu jalan. Beliau meninggal setelah sempat koma selama beberapa jam.
Ayah meninggalkanku dengan sedikit kenangan tentangnya. Aku menarik napas panjang, aku rindu pada ayah, sosoknya yang tersenyum penuh kasih membuatku selalu merasa menjadi anak yang paling beruntung di dunia. Dengan sedikit bergetar ku petik gitar tua peninggalan ayah, memainkan intro sebuah lagu yang bercerita tentang kenangan bersama seorang ayah.
Lirih ku nyanyikan bait demi bait lagu syahdu itu, ku pejamkan mata agar aku dapat lebih merasuk ke dalam setiap liriknya. Hingga tak terasa satu persatu bulir air mata luruh membasahi kedua pipiku. Suaraku pun sudah mulai bergetar, menahan segala gejolak yang kurasakan. Mengingat segala kenangan bersamanya adalah suatu momen di mana aku bisa berubah melankolis seperti saat ini. Ayah, aku rindu pada mu. Apakah kau baik-baik saja di sana? Semoga kau bahagia di sisi-Nya.
Last day in Adelaide
oyeah it's my last day...
sekarang gw lagi berada di sebuah cafe yang ga terlalu besar di pinggir jalan raya Adelaide city. disini hujan.
lumayan deras untuk hujan di sore hari. dan semilir udara dingin mulai terasa seiring berjalannya matahari ke peraduannya dan mulai di gantikan dengan bintang bintang di langit Adelaide yang mulai gelap.
yah.. disinilah gw, duduk sendiri didepan laptop dan ditemani cokelat panas sambil sesekali melirik keluar jalan raya lewat jendela kaca disamping tempat gw duduk yang basah karena air hujan.
lengkap dengan alunan musik jazz yang dibawakan dengan akustik oleh penyanyi cafe.
mungkin kalian mengira kalo gw mau nilis tentang sesuatu yang udah ga asing di hudup kalian.
galau.
ya, gw emang lagi galau. karna pada akhirnya hari ini datang juga. menyedihkan memang untuk meninggalkan tempat ini. terlalu banyak kenangan yang udah bisa gw ciptakan disini.
tapi gw juga punya kehidupan sendiri, dan mereka juga punya kehidupan yang harus tetap berjalan. gw mesti sekolah dan isabelle juga mesti sekolah. mungkin begini ya rasanya orang yang punya LDR (Long Distance Relationship. mereka ga bisa sering sering ketemu selama berbulan2 bahkan bertahun2. tapi mereka terus mencoba mempertahankan hubungan yang sebenernya udah ga ada rasa seperti pertama kali mereka berhubungan.
alesannya pasti karena udah terlalu banyak kenangan manis yang sayang2 untuk dilupakan. kadang ngejalanin sebuah LDR itu juga bisa membuat hubungan mereka semakin kuat. karna mereka udah bisa ngelewatin waktu yang panjang untuk bisa tetep saling percaya saru sama lain.
tapi bisa juga hubungan itu sangat rabuh dan makin lama makin memperlihatkan tembok jarak yang membuat satu sama lain terasa asing dan akhirnya terlupakan.
tapi kalo udah ketemu, rasanya tembok yang udah membuat jarak itu seakan udah runtuh dan diganti dengan berjuta rasa bahagia yang menanti sejak lama untuk keluar.
sama halnya kalo punya keluarga jauh. kalo ga sering komunikasi atau sering ketemu ya lama2 ngerasa asing dan harus menyesuaikan diri dari awal. mungkin gw masih beruntung karena ga nyampe membuat hubungan keluarga ini terputus kaya orang yang ga kuat ngejalanin LDR.
karna sesakit apapun hati karna udah dilupain ama orang2 yang kita sayng, orang lain ga akan bisa ikut merasakan apa yang kita rasa karna mereka juga punya masalah mereka sendiri.
udah ah.. gw udah diusir nih ama satpam nya.. okay byee...
sekarang gw lagi berada di sebuah cafe yang ga terlalu besar di pinggir jalan raya Adelaide city. disini hujan.
lumayan deras untuk hujan di sore hari. dan semilir udara dingin mulai terasa seiring berjalannya matahari ke peraduannya dan mulai di gantikan dengan bintang bintang di langit Adelaide yang mulai gelap.
yah.. disinilah gw, duduk sendiri didepan laptop dan ditemani cokelat panas sambil sesekali melirik keluar jalan raya lewat jendela kaca disamping tempat gw duduk yang basah karena air hujan.
lengkap dengan alunan musik jazz yang dibawakan dengan akustik oleh penyanyi cafe.
mungkin kalian mengira kalo gw mau nilis tentang sesuatu yang udah ga asing di hudup kalian.
galau.
ya, gw emang lagi galau. karna pada akhirnya hari ini datang juga. menyedihkan memang untuk meninggalkan tempat ini. terlalu banyak kenangan yang udah bisa gw ciptakan disini.
tapi gw juga punya kehidupan sendiri, dan mereka juga punya kehidupan yang harus tetap berjalan. gw mesti sekolah dan isabelle juga mesti sekolah. mungkin begini ya rasanya orang yang punya LDR (Long Distance Relationship. mereka ga bisa sering sering ketemu selama berbulan2 bahkan bertahun2. tapi mereka terus mencoba mempertahankan hubungan yang sebenernya udah ga ada rasa seperti pertama kali mereka berhubungan.
alesannya pasti karena udah terlalu banyak kenangan manis yang sayang2 untuk dilupakan. kadang ngejalanin sebuah LDR itu juga bisa membuat hubungan mereka semakin kuat. karna mereka udah bisa ngelewatin waktu yang panjang untuk bisa tetep saling percaya saru sama lain.
tapi bisa juga hubungan itu sangat rabuh dan makin lama makin memperlihatkan tembok jarak yang membuat satu sama lain terasa asing dan akhirnya terlupakan.
tapi kalo udah ketemu, rasanya tembok yang udah membuat jarak itu seakan udah runtuh dan diganti dengan berjuta rasa bahagia yang menanti sejak lama untuk keluar.
sama halnya kalo punya keluarga jauh. kalo ga sering komunikasi atau sering ketemu ya lama2 ngerasa asing dan harus menyesuaikan diri dari awal. mungkin gw masih beruntung karena ga nyampe membuat hubungan keluarga ini terputus kaya orang yang ga kuat ngejalanin LDR.
karna sesakit apapun hati karna udah dilupain ama orang2 yang kita sayng, orang lain ga akan bisa ikut merasakan apa yang kita rasa karna mereka juga punya masalah mereka sendiri.
udah ah.. gw udah diusir nih ama satpam nya.. okay byee...
Adelaide adventure 4
oh no ! ! Hri keempat. yaampun kok cepet banget yah?? perasaan baru kemaren gw bangun tidur di hari pertama, kok sekarang malah udah hari keempat aja?? pantesan aja kaga berasa, gw disini tuh kerjaannya cuman makan, tidur, pup. yah tapiada hikmahnya juga loh.. karna kan kalo hari biasa itu, gw harus selalu bangun pagi buat berangkat ke sekolah, jadinya bagian bawah mata gw itu item trus bengkak gitu.. jelek deh pokoknya. nah selama disini gw memanfaatkan waktu sebaik baiknya untuk tidur lebih banyak biar bengkak ini ilang. dan ternyata berhasil loh... dengan begini gw bisa bersekolah dengan wajah bersinar cling!
selama disini, gw jahat banget loh... huhuhu..
cousin gw si isabelle yg baru kelas 2 SMP tapi bermental playgroup itu, gw paksa untuk ngerjain semua peer bahasa inggris gw selama liburan hahahaha rasakan ! ! (ketawa setan)
segini dulu aja ah.. semakin sedikit yang kalian tau semakin baik... bye
selama disini, gw jahat banget loh... huhuhu..
cousin gw si isabelle yg baru kelas 2 SMP tapi bermental playgroup itu, gw paksa untuk ngerjain semua peer bahasa inggris gw selama liburan hahahaha rasakan ! ! (ketawa setan)
segini dulu aja ah.. semakin sedikit yang kalian tau semakin baik... bye
Jumat, 21 September 2012
Dewi the explorer in adelaide 3
maaf ya post yang ini lama banget di tulisnya soalnya masih ada di notes ipod gue, belom sempet gue pindahin. oke yuk cekidot
24 agustus 2012
wah tak terasa ya sudah hari ketiga... yah berarti tinggal 2 hari lagi gue disini. ternyata wktu berjalan begitu cepat yah.. seperti layaknya seseorang yang mau meninggalkan dunia ini, perlahan kenangan yang lalu muncul kembali. gue masih inget saat bokap gue nanya toilet saat pesawat udah take off, saat kebauan di mobil uncle sam, saat gue pertama kali ke bioskop yang guede banget, dan saat diketawin ama petugas kampret di di zoo.. (musik on: jangaaan berakhirrr... aku tak ingin berakhiiir.... satu jaam sajaaa) oke waktunya serius.
mungkin kalian pasti bertanya tanya siapa sih "sodara kembar" gue itu dan kalian pasti mikir gue cuma boong. ngga, gue ngga boong. gw kembar tapi gue anak tunggal.(silahkan mikir ampe botak) kayaknya ngga penting juga deh.. lanjuuuut...
sebenernya pst hari ini gw gabung ama post kemaren. soalnya gw ga sempet buka internet karna ada "something" dan kalo kalian mau tau, komputernya meledug ketiban mikrowep. dan untungnya post kemaren sepet gw tulis di ipod dan gw pindahin ke blog hari ini. dan karena hari nin gw juga baru bisa berselancar lagi di dunia gw dengan tentram dan bahagia , gw memanfaatkan momen istimewa ini dengan mengupdate status, download lagu baru, dan tentunya melakukan kerjaaan sambilan gw. Hacking dan menyebarkan virus (flu, rabies, cantengan, batuk) hahahaha. Yeah of course
dan saat gue ngecek twitter, e-mail, dan pesbuk gue, ternyata gue udah dihujani ribuan mention dan message (lebay amat lu cing) yang notabene semuanya nanyain gue kapan balik lagi ke indonesia. maklum lah biar tampang udik tapi kan ngangenin (cailaaaah) sampe ada loh yang ga bisa makan tidur gara2 kangen ama gue (hiks hiks hiks i love you dear).
dan sebagai anak yang berbakti pada nusa bangsa dan taat pada orang tua sera rajin menabung dan murah senyum ini gue sempetin balesin mention mereka satu satu dengan hitungan birama empat perempat. saat gue udah mulai berfikir kalo hari ini bakalan menjadi hari yang normal, eh angan2 gue itu sirna bak istana pasir tersapu ombak lautan pantai kuta. mungkin kalo gw ceritakan terlalu panjang dan membutuhkan waktu 1001 malah untuk menceritakannya jadi tidak usah diceritakan (bilang aja lu malu nyeritain aib lu cing...) tapi justru kebodohan yang hadir di setiap hari2 gue itu yang bikin gw selalu hepi dan berwarna bagai rainbow cake, karna mungkin kalo tanpa keluarga abnormal gw ini mungkin gw udah terjun ke aer terjun Niagara gara2 stres ga sangup ngelewtin hidup yang berat ini.
jadi pesen gue, nikmatian aja setiap detik yang terjadi dalam hidup lo selagi lo masih sempet dan syukurin aja apa yang udah lo punya saat ini, karna diluar sana masih banyak orang yang kurang beruntung bahkan ga punya keluarga dan if you can't have the person you love, love the person you have. i think my english gets better isn't it? okay folks mata raishu.. see you next post :D
24 agustus 2012
wah tak terasa ya sudah hari ketiga... yah berarti tinggal 2 hari lagi gue disini. ternyata wktu berjalan begitu cepat yah.. seperti layaknya seseorang yang mau meninggalkan dunia ini, perlahan kenangan yang lalu muncul kembali. gue masih inget saat bokap gue nanya toilet saat pesawat udah take off, saat kebauan di mobil uncle sam, saat gue pertama kali ke bioskop yang guede banget, dan saat diketawin ama petugas kampret di di zoo.. (musik on: jangaaan berakhirrr... aku tak ingin berakhiiir.... satu jaam sajaaa) oke waktunya serius.
mungkin kalian pasti bertanya tanya siapa sih "sodara kembar" gue itu dan kalian pasti mikir gue cuma boong. ngga, gue ngga boong. gw kembar tapi gue anak tunggal.(silahkan mikir ampe botak) kayaknya ngga penting juga deh.. lanjuuuut...
sebenernya pst hari ini gw gabung ama post kemaren. soalnya gw ga sempet buka internet karna ada "something" dan kalo kalian mau tau, komputernya meledug ketiban mikrowep. dan untungnya post kemaren sepet gw tulis di ipod dan gw pindahin ke blog hari ini. dan karena hari nin gw juga baru bisa berselancar lagi di dunia gw dengan tentram dan bahagia , gw memanfaatkan momen istimewa ini dengan mengupdate status, download lagu baru, dan tentunya melakukan kerjaaan sambilan gw. Hacking dan menyebarkan virus (flu, rabies, cantengan, batuk) hahahaha. Yeah of course
dan saat gue ngecek twitter, e-mail, dan pesbuk gue, ternyata gue udah dihujani ribuan mention dan message (lebay amat lu cing) yang notabene semuanya nanyain gue kapan balik lagi ke indonesia. maklum lah biar tampang udik tapi kan ngangenin (cailaaaah) sampe ada loh yang ga bisa makan tidur gara2 kangen ama gue (hiks hiks hiks i love you dear).
dan sebagai anak yang berbakti pada nusa bangsa dan taat pada orang tua sera rajin menabung dan murah senyum ini gue sempetin balesin mention mereka satu satu dengan hitungan birama empat perempat. saat gue udah mulai berfikir kalo hari ini bakalan menjadi hari yang normal, eh angan2 gue itu sirna bak istana pasir tersapu ombak lautan pantai kuta. mungkin kalo gw ceritakan terlalu panjang dan membutuhkan waktu 1001 malah untuk menceritakannya jadi tidak usah diceritakan (bilang aja lu malu nyeritain aib lu cing...) tapi justru kebodohan yang hadir di setiap hari2 gue itu yang bikin gw selalu hepi dan berwarna bagai rainbow cake, karna mungkin kalo tanpa keluarga abnormal gw ini mungkin gw udah terjun ke aer terjun Niagara gara2 stres ga sangup ngelewtin hidup yang berat ini.
jadi pesen gue, nikmatian aja setiap detik yang terjadi dalam hidup lo selagi lo masih sempet dan syukurin aja apa yang udah lo punya saat ini, karna diluar sana masih banyak orang yang kurang beruntung bahkan ga punya keluarga dan if you can't have the person you love, love the person you have. i think my english gets better isn't it? okay folks mata raishu.. see you next post :D
Langganan:
Postingan (Atom)